Resensi: SEPI

 

                                                    FIGHT OR FLIGHT


Judul Buku            : Sepi
Penulis                  : Pijar Psikologi (antologi)
Penerbit                 : PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit          : 2022
Tebal Buku            : 256 halaman
Harga                     : Rp.66.000,-

 

 Daur hidup akan selalu berputar
      Tugasku hanya bertahan
Terus jalan dan mengalirlah seperti air
Dari lahir sampai ku jadi debu di akhir

(daur hidup--donne maula) 




Banjarnegara,--kota tempat saya tinggal--dikenal dengan sebutan "kota pensiunan." Banyak dijumpai warga lokal yang kembali dari perantauan setelah pensiun, untuk menikmati masa tua di tanah kelahiran. Di sekitar tempat tinggal saya, ada beberapa rumah yang hanya dihuni sepasang suami istri sepuh atau bahkan seorang diri.  Pasangan sudah berpulang, anak-anak kuliah, menikah dan tinggal di luar kota. Alhasil kegiatan posyandu yang lebih semarak adalah posyandu lansia, sebab tidak ada satu balita pun di RT saya 😅.

Beberapa waktu lalu saya bertanya kepada salah satu ibu tetangga rumah yang tinggal sendiri. Saya bertanya,  apakah beliau merasa kesepian karena seorang diri di rumah?. Lalu beliau menjawab,  "Sendirian, iya. Sepi, iya.  Tapi tidak kesepian,  Mbak." Great. Sepi,  tapi tidak merasa kesepian. Saya pun semakin tertarik untuk ngobrol tentang aktivitas keseharian beliau.  Dan ya,  saya sampai pada kesimpulan bahwa kesendirian belum tentu membawa pada kesepian.  Kesepian tercipta karena tidak ada keterikatan, tidak ada kelekatan sosial.  Kesepian adalah tentang kualitas,  bukan kuantitas. Karena yang sendiri belum tentu merasa sepi dan yang ramai belum tentu merasa damai (hal.  36). 

Sebuah antologi tentang sepi ditulis oleh beberapa psikolog dari Pijar Psikologi mengupas tentang kesepian yang oleh sebagian psikolog disebut sebagai salah satu jenis emosi (selain enam emosi dasar yang dimiliki manusia ya). Diantara marah,  sedih,  jijik,  takut,  bahagia dan terkejut,  nyempil si sepi ini. Seperti halnya jenis emosi lain, sepi juga bukan untuk dihindari,  tetapi dihadapi. 

Berkenalan lebih jauh dengan sepi, buku ini mengupas tentang penyebab seseorang bisa merasakan kesepian baik dalam kesendirian atau keramaian. Karena sepi adalah rasa yang sangat personal. Sepi bukan persoalan tentang sendiri,  tapi kesendirian yang dirasakan secara emosional dan membuat diri tidak nyaman (hal: 48).  

Entah di fase hidup yang mana--sebanyak apapun teman dan saudara kita--,sepi sesekali tetap akan singgah. Jadi, pastikan kita punya kendali atas setiap emosi yang kita rasakan, agar saat sepi hadir,  tidak membuat kortisol melonjak sehingga menghambat dopamin dan seritonin.

Terbagi ke dalam enam bagian, buku ini disusun secara runut,  diawali dengan bagaimana kesepian tercipta hingga cara berdamai dengan sepi itu sendiri. Semacam guide book untuk bisa berdamai dengan segala emosi,  berdialog dengan diri melalui sepi :). Pas banget dibaca oleh teman-teman yang sedang mengambil jeda sejenak, melihat ke dalam diri, menemukan kembali mutiara yang terpendam dan menyadari bahwa setiap kita adalah istimewa. Sehingga saat terbersit kata menyerah, apalagi niat untuk berbalik arah, kita akan  sadar bahwa kita terlalu istimewa untuk itu😊.

Sering kali kita hanya fokus pada perawatan diri secara fisik. Melakukan facial sebulan sekali atau rutin menggunakan skincare untuk mencegah kerutan dan flek hitam.  Tapi kita lupa, bahwa ada bagian dari tubuh yang harus dijaga dan dirawat, agar dia mampu memegang kendali terhadap setiap emosi.  Agar dia mampu berdamai jika datang moment tidak baik-baik saja. Yes,  it's okay to not be okay.  Sebab hidup tidak selalu baik-baik saja. Bagian tubuh itu bernama jiwa.  Seperti halnya raga,  jiwa kita pun harus dijaga dan dirawat agar sehat. Seseorang dengan jiwa yang sehat bukan berarti orang yang selalu bahagia, tidak pernah marah dan sedih. Bukan. Jiwa yang sehat adalah jiwa yang dapat berdamai dengan apapun emosi yang sedang dirasakan. Punya kendali saat marah, punya kendali juga saat sedih. Istilahnya, memiliki kemampuan untuk meregulasi emosi dengan baik. Mengelola emosi adalah kunci dalam melepas kesepian yang hadir (hal: 160).

Mari kita rayakan setiap emosi yang hadir di hati.  Seperti halnya bahagia, sebagai salah satu ruang emosi tempat kita mengukir tawa, sepi pun harus kita rayakan sebagai salah satu ruang bagi kita untuk bertumbuh. Feeling lonely at any particular moment simply means that you are human (hal. 33)


Banjarnegara, 17012025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Movie Time: Ruang Nostalgia (Review Film Rangga dan Cinta)

Resensi: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya

Resensi Animal Farm: RESILIENSI