Judul Buku : Animal Farm
Penulis : George Orwell
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2016
Tebal Halaman : 142 halaman
Halaman : Rp. 38.500
Jenis buku : Novel (Fabel)
Tidakkah ini satu penjelasan yang terang benderang, Kamerad, bahwa semua kejahatan dalam hidup kita muncul dari tirani manusia?. Cukup dengan menyingkirkan manusia dan hasil kerja kita akan menjadi milik kita
(halaman 8)
Beberapa kali ke toko buku, hanya melihat sekilas dan lewat begitu saja, belum tertarik untuk membaca Animal Farm. Tahun kemarin, kurang lebih seratus hari setelah pelantikan presiden dan wakil presiden, di sosial media bersliweran saran dan kritik untuk RI 1 dan RI 2 terkait dengan kinerja beliau berdua (send my best regard to Mr Presiden and Mr. Vice President). Satu saran menarik dari netizen adalah saran untuk mas wapres agar beliau membaca buku Animal Farm karya George Orwell, yang kemudian, saya pun tertarik juga untuk membacanya🙂.
Semua bermula dari mimpi aneh Si Tua Major, Babi-Putih Tengah. Babi berusia dua belas tahun yang gemuk dan gagah serta nampak seperti babi priyayi itu bermaksud mengumpulkan seluruh binatang di lumbung besar Peternakan Manor milik Pak Jones untuk menceritakan tentang mimpinya. Tak hanya tentang mimpi, Major yang merasa hidupnya tak lama lagi akan menyampaikan kegelisahan yang selama ini ia rasakan, tentang kebebasan bagi seluruh binatang di peternakan. Molly, si kuda betina, Moses si gagak jinak, Benjamin si keledai hingga Bluebell, Jessie, dan Pitcher—trio anjing—dan semua penghuni Peternakan Manor mendengarkan dengan seksama kalimat-kalimat yang disampaikan oleh Major.
Pertemuan di lumbung tak ubahnya seperti farewell party bagi Major. Sebab tiga malam kemudian babi priyayi itu meninggal dunia. Namun, meski raganya sudah dikuburkan di kaki kebun buah-buahan, kalimat Major malam itu memantik api semangat bagi binatang-binatang di Peternakan Manor untuk terbebas dari kepemimpinan tirani sang pemilik peternakan--Pak Jonas. Satu-satunya jalan yang akan ditempuh adalah melalui pemberontakan.
Sebab, hampir semua hasil produksi dari kerja kita dirampok oleh bangsa manusia. Itulah, Kamerad, jawaban masalah kita. Semua itu bisa dirumuskan dalam satu kata: Manusia. Manusia adalah musuh kita yang sesungguhnya. Hapuskan manusia dari adegan itu dan akar sumber persoalan kelaparan dan kerja lembur dihapuskan selama-lamanya (hal.6)
Awal yang sangat menarik dari novel satir politik karya George Orwell yang kali pertama dirilis di Inggris pada 17 Agustus 1945. Penulis bernama asli Eric Arthur Blair mengemas cerita dalam bentuk fabel, dan ia, dengan sangat cerdas, merepresentasikan setiap karakter di novel dengan jenis sifat seseorang atau kelompok tertentu. Meskipin Animal Farm adalah cerita fiksi, namun Orwell sebenarnya (kala itu) sedang memberikan kritik tajam terhadap pemerintahan Stalin di Uni Soviet, hal ini terkait dengan revolusi Rusia. Dengan diksi dan narasinya, buku ini berhasil membawa pemahaman yang lebih dalam tentang manusia dan semua karakter yang melekat. Bagaimana kemudian saya sebagai pembaca, semakin memahami bahwa abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan) sangat rentan terjadi pada mereka yang sudah berhasil menggenggam kekuasaan. And yes, korupsi, opportunistic, ambisi dan nepotisme termasuk di dalamnya.
Orwell memberikan gambaran dengan sangat detail tentang ketimpangan sosial. Dimana dalam suatu komunitas, sebagian pihak merasakan ketidakadilan terkait kesejahteraan hidup, sementara pihak lain hidup dalam keberlimpahan. Sounds like related?🤭. Binatang penghuni Peternakan Manor merasa hidup dalam ketertindasan. Selalu bekerja keras namun bukan kesejahteraan, melainkan kesengsaraan yang didapat. Hingga pada satu masa, sesepuh binatang di peternakan tersebut—Major, si Babi Putih-Tengah---mencetuskan wacana pemberontakan yang bertujuan mengakhiri kepemimpinan makhluk tiran bernama manusia.
Sekarang Kamerad, apa sih, sifat kehidupan kita?. Mari kita hadapi: hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek. Kita lahir, kita diberi begitu banyak makanan, sehingga menjaga napas dalam tubuh kita, dan diantara kita yang mampu dipaksa kerja dengan seluruh kekuatan kita sampai atom terakhir kekuatan kita; dan segera setelah kegunaan kita berakhir, kita disembelih dengan cara yang keji. Tak seorangpun di Inggris tahu arti hidup bahagia atau waktu senggangsesudah ia berusia satu tahun. Tidak ada satu ekor binatang pun di Inggris ini yang bebas. Hidup seekor binatang supersengsara dan penuh perbudakan: ini adalah kenyataan yang sebenar-benarnya (hal. 5)
Detail peternakan yang dinarasikan oleh penulis melalui diksinya menjadi gerbang bagi pembaca untuk memvisualkannya secara sempurna dalam imajinasi masing-masing. Orasi Major –Si Babi Tua-- di lumbung besar disaksikan seluruh penghuni peternakan menjadi bagian paling epik. Saat kemudian Major meninggal, Snowball dan Napoleon segera mengambil alih kendali kereta revolusi agar tetap melaju di jalur yang benar. Btw, Snowball dan Napoleon adalah juga nama babi, juniornya Major 😁. Mereka berdua dianggap mampu mengelaborasikan ajaran si tua Major untuk memastikan pemberontakan dapat direncanakan dengan matang dan pada saatnya nanti bisa direalisasikan.
Dalam chapter selanjutnya, Orwell "mengajak" pembaca mengikuti bagaimana sejarah terukir di Peternakan Manor. Tentang pemberontakan, terusirnya Pak Jonas, dan lahirnya Peternakan Binatang atau Animal Farm menggantikan Peternakan Manor.
salah satu orasi Major yang membakar api semangat warga peternakan binatang
Kisah semakin kompleks saat "kemerdekaan" sudah diraih. Republik Binatang yang akhirnya bangkit setelah ras manusia tumbang pun menghadapi tantangan dari sesama "warga" Peternakan Binatang. Motto "semua hewan setara" berubah menjadi "semua hewan setara, tetapi beberapa lebih setara daripada yang lain". Ada intrik dan propaganda yang memicu konflik besar terjadi.
Selesai membaca Animal Farm, saya justru teringat tulisan Ibnu Khaldun, seorang sejarawan muslim dalam bukunya yang berjudul Muqaddimah. Beliau menuliskan tentang siklus peradaban yang salah satu tahapannya adalah terbentuk ketangguhan (resiliensi). Masyarakat yang lahir dari kondisi sulit, dengan solidaritas tinggi memiliki potensi untuk membangun peradaban karena kegigihan mereka. Namun kerentanan muncul saat generasi berikutnya menjadi makmur dan kehilangan solidaritas sosial. Resiliensi masyarakat adalah kemampuan untuk kembali kuat melalui solidaritas dan pendidikan, meskipun akan mengalami siklus naik turun dalam sejarah (google.com).
Pada akhirnya, satu hal semakin saya sadari bahwa, di belahan bumi manapun, saat seseorang berambisi dengan kekuasaan, maka ia akan melakukan segala cara untuk mencapainya. Dan ketika sudah berhasil meraihnya, segala cara pun akan dilakukan untuk mempertahankannya. Mengambil hak orang lain, menindas, bahkan mungkin hingga harus melenyapkan nyawa.
Tentang Republik Binatang versi Animal Farm:
Nama Negara: Republik Peternakan Binatang
Lagu Kebangsaan: Binatang Inggris
Warna Bendera: Hijau dengan gambar kuku binatang dan tanduk berwarna putih
Jam Kerja Warga: 6 hari kerja (hanya libur di hari minggu
Upacara bendera dilakukan setiap hari minggu di kebun rumah peternakan
(hal. 30)
Prinsip Binatangisme atau Prasasti Tujuh Perintah:
1. Apapun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh
2. Apapun yang berjalan dengan empat kaki dan bersayap adalah teman
3. Tak seekor binatang pun boleh mengenakan pakaian
4. Tak seekor binatang pun boleh tidur di ranjang
5. Tak seekor binatang pun boleh minum alkohol
6. Tak seekor binatang pun boleh membunuh binatang lain
7. Semua binatang setara
(hal. 24)
Selamat membaca 🙂
rating: 8/10
Komentar
Posting Komentar