Resensi: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya


 

Sebab Hidup Ingin Kau Lebih Kuat

 

Judul Buku        : Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya

Penulis             : dr. Andreas Kurniawan, Sp. KJ

Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit      : 2025

Tebal Halaman  : 202 halaman

Halaman           : Rp. 69.000

 

Ketika kamu sudah pernah terpuruk, pernah pulih, dan ternyata kembali terpuruk lagi, tenang saja, kamu bisa bangkit kembali. Mungkin, kamu butuh waktu untuk membersihkan lukamu atau memproses rasa sakitmu dulu. Tapi kalau sudah usai, kamu akan bisa bangkit lagi dan semoga lebih cepat dari sebelumnya 

(hal: 106)

 

Suatu siang, saya mendapat wa dari adik tercinta,--dek ima-- menanyakan tentang buku 'Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya'.  "Ini tentang apa, Mbak?. Ada temen nanya". Kebetulan sekali, beberapa waktu lalu, selesai baca buku ini, saya sempat sedikit menulis reviewnya. Auto buka laptop, sekalian saja saya lengkapi, supaya lebih enak dibaca. Btw, makasih sist, udah bertanya. Jadi punya alasan untuk merapikan catatan ini😍.

Pernah nggak, kita merasa bahwa hidup tidak seberuntung orang lain. Jauh tertinggal dengan pencapaian orang lain. Jauh tertinggal dengan prestasi orang lain. Pikiran-pikiran seperti itu membuat kita berhenti, putus asa, sedih, minder dan perasaan tidak nyaman lainnya. Saya rasa pada satu titik hidup, setiap orang pernah mengalaminya. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?. Bola ada di tangan kita. Akan kita lempar atau tetap kita pegang. Perasaan ‘tidak seberuntung orang lain’ ini adalah sudut pandang dalam bentuk sebuah narasi yang kita bangun sendiri di pikiran kita. Hidup adalah tentang sudut pandang. Cobalah bergeser sedikit, lihat ke dalam diri dengan sudut pandang yang berbeda. Bukankah orang bijak bilang, hidup yang kita jalani bisa jadi menjadi impian orang lain?.

Dokter Andreas,—melalui buku ini—mengajak kita untuk melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda. Terbagi ke dalam sebelas sub judul, kita akan mendengar cerita kepahitan, keterpurukan, dari orang-orang yang sedang berputar-putar di labirin keputusasaan, namun kemudian menemukan kembali alasan mengapa mereka harus bertahan. Butuh waktu lumayan lama bagi saya menyelesaikan membaca buku ini. Bukan karena susah dicerna, tetapi bolak-balik berhenti, sebab tulisan di setiap lembarnya seperti menyentil otak saya berkali-kali, “Ah, iya juga”, “Ternyata selama ini...”, “Eh, kenapa baru kepikiran?...”

 

Rasanya seperti diingatkan kembali bahwa pikiran kita itu seperti tulisan yang kita buat, lalu kita simpan dalam file di komputer. Sangat mungkin untuk kita ubah sewaktu-waktu. Ingat ketika kita membuat skripsi?. Apa nama file skripsi kita?. Skripsi.docx---skripsiEdit.docx---skripsiEditLagi.doxc—skripsiEditLagiBaruu.docx--skripsiEditLagiBaruuBanget.docx.  Narasi-narasi dalam bentuk file itu masih bisa kita ubah kan?. Terserah maunya kita. Seperti itu juga narasi kita terhadap hidup kita sendiri.

Hidup memang tidak selalu lurus dan mulus. Ada kalanya macam roller coaster. So, it’s Okay not be okay. Bila suatu berkas dalam komputer kita bisa diubah, maka kita pun memiliki kekuatan mengubah kepercayaan kita melalui narasi tersebut. Apapun nama dokumennya nanti, mulailah dari hal paling sederhana: kembalikan pena ke tanganmu sendiri dan mulailah menulis narasi baru (hal.25).

Two thumbs up buat yang bikin desain sampul buku ini. Keren sekaliii. Ditaruh sebelahan dengan buku sebelumnya Seorang Pria yang Melalui Duka Dengan Mencuci Piring, menjadi sebuah gambar yang nyambung seperti sebuah lukisan.

Last, re-read buku ini sambil dengerin soundtrack Jumbo (saya paling suka versi Prince Poetiray) seperti di puk-puk punggungnya, seraya ada seseorang berbisik di telinga. “Sebab hidup ingin kau lebih kuat”

 

Ketidaksempurnaan adalah bagian tak terhindarkan dari proses kehidupan

(hal: 192)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Movie Time: Ruang Nostalgia (Review Film Rangga dan Cinta)

Resensi Animal Farm: RESILIENSI