Movie Time: Ruang Nostalgia (Review Film Rangga dan Cinta)
memorabilia of skripsi:
udah kayak fosil, umurnya 20 tahun lebih😁
Sebagai
remaja vintage yang menjadikan Film Ada Apa Dengan Cinta 1 (AADC) sebagai objek penelitian skripsi di tahun 2004, tentu saja sangat exited menunggu The Rebirth of AADC: Rangga Cinta yang tayang di Oktober ini. Berhubung
mas suami nggak bisa nemenin nonton, dan anak gadis sedang di perantauan,
alhasil nonton seorang diri. Memilih seat
di ujung yang masih kosong dan hanya dengan enam penoton lain di dalam bioskop,
benar-benar seperti VIP person 😉.
Kalo ada member card di AADC universe, mungkin saya sudah jadi anggota prioritas 😊. Entah sudah berapa puluh kali menonton AADC 1 untuk keperluan skripsi. Ingat dulu sering bergadang karena mantengin muka Nicholas Saputra dan Dian Sastro, nyatet dialog-dialognya, menganalisis adegan demi adegan dan menghubungkannya dengan teori-teori yang ada di Ilmu Sosiologi. Sangking iconicnya AADC 1 (rilis pertama di tahun 2002), buku Aku-nya Syuman Djaya yang dibaca Rangga di film, dicetak ulang sampai puluhan kali karena banyak yang mencari (FOMO mode on). Termasuk saya 🤭 (thanks to my lovely bestie, Wiwiet yang udah mau dititipin. Beli di Solo kayaknya waktu itu). Daaann...saia juga bikin geng kayak Cinta. Bareng temen-temen kost yang memang jumlahnya berlima, kami membuat geng AADC versi syar’i 🧕🥰. Masing-masing dari kami cosplay sebagai anggota geng Cinta: Maura, Carmen, Milly, Alya an of course, Cinta. Qadarullah, karakter kami berlima mirip dengan geng Cinta versi ori (atau dimirip-miripin). Bisa tebak tidak, siapa yang cosplay sebagai Cinta 😎.
sejenis artefak😆. pada masanya sulit sekali nyari dvd ini😇
Sebagai anggota prioritas di AADC universe (yang udah nonton semua sekuel maupun spin off-nya: AADC 2 dan Milly Mamet), sejak awal nonton Rangga Cinta, saya bertekad untuk tidak akan membandingkan Nicholas-Dian dengan El-Leya as Rangga dan Cinta. Intinya benar-benar ingin menikmati Rangga Cinta versi 2025.
nonton sendiri🤩
Kemarin sempat baca beberapa review di digital platform, masih banyak—terutama generasi millenial—yang mengganggap versi Dian dan Nicho lebih baik dari versi El dan Leya. Sah-sah aja, netizen mah bebas berpendapat ya. Sama halnya ketika menikmati film yang diangkat ke layar lebar. Sebenarnya kita tidak bisa memilih mana yang lebih baik, versi novel atau layar lebar. Itu jelas berbeda. Masalah selera aja, lebih suka versi novel atau film.
Back to AADC, bagi sebagian the millenials, Rangga-Cinta versi Dian dan Nicho memang seiconic itu, tidak bisa tergantikan. Tapi cobalah nonton dulu, versi El dan Leya juga nggak kalah menawan. Selain dikemas dalam bentuk musikal, cast anak gen z semua, beberapa soundtrack diaransmen ulang plus ada lagu baru membuat Film RanggaCinta terasa fresh dan benar-benar bisa dinikmati tanpa harus membandingkan dengan versi seniornya. Duh, ini tante-tante (atau bude ya) 40+ beneran kesengsem sama Rangga Cinta versi gen z (tante atau bude nggak tuh😁).
Saat memasuki pintu bioskop seperti ditarik kembali ke tahun 2002, ketika pertama film AADC 1 rilis. Sensasinya (mungkin) seperti saat Harry Potter, Ron dan Hermione memegang sepatu bot (yang diceritaka berfungsi sebagai portkey) lalu berteleportasi ke tempat Turname Triwizard atau seperti Buku Mangunrok yang membawa Koki Yeon kembali ke zaman Dinasti Joseon di drama Korea Bon Appetite, Your Majesty 🙂.
El Putra “Rangga” dan Leya ‘Cinta”, kalian keren sekali. El, you nailed it. Suara kamu bagus banget cah bagus, adem dan sopan sekali masuk di telinga☺. Definisi bernyanyi seperti bercerita. Rangga versi El definisi rapuh, galak, gengsi tapi kecintaan banget sama Cinta 😁. Apalagi pas doi habis marah-marah ke Cinta (marahnya tuh nggak bikin takut, tapi malah kasian, kayak yang dia terluka banget hatinya). Jadi nelangsa lihatnya. Bikin bude pengen puk-puk punggung Rangga *eh. Dan Leya, cantik sekali cah ayu, pas dengan karakter Cinta. Jaksel mentok pokoknya. Labilnya Cinta, gengsian juga, sayang sekali dengan teman-temannya dan ngerasa bersalah banget ke Rangga. Semua emosi itu nembus layar 😍.
Btw, terimakasih anak-anak baik, udah diajak “main” ke tahun 2002. Menyenangkan sekali bisa bernostalgia, mengenang kembali perjuangan mengerjakan skripsi. Sukses untuk kalian berdua😇🥰.
Selamat menonton...
Rating:
9/10




Komentar
Posting Komentar