Movie time: MOVE ON (Review Film 1 Imam 2 Makmum)
Arman masih dalam fase five stages of grief atau lima tahap kesedihan sepeninggal sang istri tercinta, Laela, saat sang bunda memintanya untuk menikah lagi. Dalam ilmu psikologi, fase ini (five stages of grief) biasa dialami oleh seseorang yang ditinggal orang terdekat ntuk selamanya. Berapa lama tiap fase terlewati? . Tentu tidak sama bagi setiap orang. Arman, masih selalu menyalahkan diri sendiri atas kematian Laela. Namun di sisi lain, ia sadar bahwa hidup terus berjalan. Suka atau tidak, tanpa Leala di sisinya, ia harus tetap melanjutkan hidup, bersama sang putri, Yasmin.
Mencoba berdamai dengan duka, Arman pun dihadapkan pada keinginan sang bunda agar ia menikah kembali dengan Anika, gadis cantik yang sudah lama menjadi bagian dari keluarga Arman. Bagaimana Arman menghadapi dilema ini?. Duka yang belum sepenuhnya pulih dan keinginan ibunda yang sangat sulit untuk diwujudkan. Bagaimana Arman mencoba untuk move on, bukan untuk melupakan, tetapi melanjutkan kehidupan tanpa Laela di sisinya?. Harus banget nonton film ini gaes buat tahu jawabannya π.
Alhamdulillah, Banjarnegara dengam segala slow livingnya punya bioskop yang--yaa walo belum seperti XXI atau CGV-- bisa memenuhi hasrat nonton emak-emak macam saya ini π. Film dengan durasi 1 jam 52 menit ini, bikin saya ikutan cengar cengir, senyum simpul, sedih, kecewa sampai marah banget ke Arman. Ikut ngerasain jadi Anika yang harus terombang-ambing perasaannya gegara seorang Armanππ.
Skenario ditulis oleh Ratih Kumala yang juga sukses dengan Gadis Kretek, disutradarai Key Mangunsong, dikolaborasikan dengan Fedi Nuril (Arman) si spesialis poligami, yang disandingkan dengan Amanda Manopo (Anika) si ratu sinetron ternyata menghasilkan karya yang super keren.
Amanda cantik sekali dengan hijabnya. Two thumbs up buat tim hijab do nya, pas di wajah Amanda. Tapi sejujurnya agak terganggu dengan cepolannya. IMHO, di beberapa scene, cepolannya agak kegedean ππ. Tapi untuk urusan akting, jam terbang emang gak bisa bohong ya. Karena udah lama malang melintang di dunia akting, Amanda as Anika beneran mumpuni. Nggak ada gurat-gurat Andin (Ikatan Cinta), ataupun Rania (Bila Esok Ibu Tiada). Semua emosi sampai ke penonton. Sedih, marah dan bahagianya nular.
Dan untuk "duta poligami", the one and only, Fedi Nuril: "Bang, lo ngemil formalin atau gimana, muda terus perasaan"π . Dari zaman nge-band Garasi, Nino "Mengejar Matahari", Fahri "Ayat-Ayat Cinta", dan film-film lain mukanya nggak berubah. Aktingnya juga oke as always. Kalo kata anak zaman sekarang pesona lelaki well done emang lebih menggoda π.
Meski bukan film tentang poligami, tapi Fedi memang identik dengan persoalan berbagi hatiπ . Jadi dari awal nonton ya udah kebayang sebenernya karakter Arman bakal kayal apa. Aman banget lah buat seorang Fedi Nuril. That's why, pengen lihat Fedi main film yang beda karakternya dari film-film doi sebelumnya. BM banget iniiii.
Btw, saya sedang baca bukunya dr. Jiemi Ardian, Sp. Kj, Merawat Luka Batin. Dan ini relate sekali dengan yang dialami Arman. Bahwa hidup kadang membawa kita pada titik ketidaknyamanan. Kita tidak dihadapkan pada pilihan untuk menghindar, sebab mau tidak mau, suka tidak suka, hal itu yang sedang terjadi dan harus kita hadapi. Kita, hanya harus 'menjamu' semua rasa yang hadir. Berkenalan, lalu berdialog beberapa saat. Biarkan ia singgah sejenak, nggak lama kok. Sebentar saja. Nanti juga akan pergi.
Jiwa manusia adalah guest house
dan setiap hari ada tamu-tamu baru
Senang, takut, sedih, marah, dan kadang depresi
Kadang ada beberapa kesadaran yang hadir sesaat setelah pengunjung ini datang
Sambut dan layani tamu-tamu ini
Sekalipun tamu ini adalah segerombolan rasa sedih,
yang secara kasar mengotori tuang tamu dan mengambil perkakasmu
Namun, perlakukanlah tamu ini dengan hormat
Suatu hari mungkin dia akan mengajakmu makan malam karena kebaikanmu
Kegelapan, rasa malu dan kebencian,
temui mereka dengan tawa di pintu masuk, lalu ajak mereka ke dalam
Berterimakasihlah atas siapapun yang datang,
karena setiap tamu yang datang merupakan utusan yang dikirim dari Dia yang lebih tinggi
--Jalaluddin Rumi--
(Merawat Luka Batin, hal: 208)
Selamat menonton!!. Kita ikuti perjalanan Arman supaya bisa MOVE ONπ
Banjarnegara, 22012025

Komentar
Posting Komentar