Manchester United, Tepuk Sakinah dan Wedding Anniversary
Tidak ingat tepatnya sejak kapan saya menyukai sepakbola dan bulutangkis. Untuk bulutangkis, kalo disuruh main masih okelah sedikit-sedikit. Suka disini maksudnya lebih ke nonton dan mengikuti update pertandingan dan dinamika perbulutangkisan nasional maupun internasional. Yang paling epik, tahun 2000, selesai ujian kelulusan SMA, saya nonton Final Indonesia Open secara langsung di Istora Senayan. Diantar kakak sepupu (thank you bro Davi), menyaksikan langsung Taufik Hidayat mengalahkan Ong Ewe Hock dari Malaysia dan berhasil menjuarai Indonesia Open tahun 2000. Ingat sekali waktu itu, saya dibuatkan topi berbentuk kok raksasa dari kertas karton.
Sayang sekali nggak ada fotonya. Tapi yang menarik adalah, teman bapak yang memang sudah kenal dengan saya, menanyakan kepada Bapak sehari setelahnya: apakah saya ke Istora untuk nonton bulutangkis. Sebab ternyata pertandingan final Indonesia Open tersebut disiarkan secara langsung di TV Nasional. Biasanya saat jeda atau saat perolehan point, kamera akan zoom in penonton dengan atribut unik. Dan saya salah satunya, dengan topi berbentuk kok raksasa, tertangkap kamera dan nampak di layar kacaπ. It was amazing experience π₯°.
And
how about football? Saya fans garis keras Manchester
United (MU) dari zaman Pithecanthropus Erectus. Gen z mungkin tidak tahu bahwa MU pernah berjaya. Hai anak muda, izinkan Tante
bercerita π. Sekitar tahun 1990 hingga awal 2000, tim manapun bakalan
keringat dingin kalo tahu akan berhadapan dengan MU. Se-keren dan se-sakti itu
MU pada masa jayanya. Treble winner musim
1998-1999 adalah buktinya. Skuad yang saat itu berisi Paul Scholes,
David Beckam, Dwigt York, Andy Cole dkk, di bawah pelatih bertangan dingin Alex
Ferguson, MU benar-benar menjelma menjadi tim tangguh, macam The Avangers. Yaa....tapi
benar adanya bahwa dunia berputar. Satu dekade belakangan ini, entah kalimat
apalagi yang bisa menggambarkan ngenes-nya
kondisi fans MU. Klub kesayangan mengalami apa yang disebut nyusruk bin terjerembab. Bongkar pasang
pemain, pelatih yang bolak balik diganti pihak manajemen, belum juga menemukan
racikan yang pas untuk mengembalikan kejayaan MU. Tapiiii, semalam, angin segar
sepertinya mulai berhembus. Hilal kembalinya kejayaan mulai tampak. Kemenangan
atas Liverpool di Anfield, mulai menghadirkan kembali asa itu. Glory-Glory
United π.
Saat sekolah dulu, saya
bahkan rela menyisihkan uang saku demi bisa membeli Tabloid Bola setiap hari
Kamis. Dan, yang juga epik terkait kecintaan saya dengan Manchester United
adalah, saya kirim surat ke Old Trafford, nama stadion sekaligus markas Manchester United. Menulis
surat dengan bahasa inggris yang pas-pas-an dan saya tulis di belakang karton
berbentuk logo MU dengan ukuran cukup besar yang saya buat sendiri. Ada aja
idenya saat itu, membuat logo MU dalam ukuran besar, lalu dibaliknya saya tulis
surat yang isinya memperkenalkan diri sebagai fans MU yang berasal dari
Indonesia and bla bla bla. Kalau nggak salah ingat, kartonnya nggak saya lipat,
jadi bikin amplop sendiri juga menyesuaikan ukuran kertas kartonnya. *terniat ya π
. And Voila...dibalas dong.
Kira-kira dua bulan setelahnya datang balasan berupa poscard plus buku yang berisi biodata seluruh pemain dan semacam
memorabilia MU dari tahun ketahun. It was best experience too.
masih tersimpan rapi setelah 23 tahun π
Ada semacam bercandaan
di kalangan fans MU, bahwa kalo cari pasangan itu yang suka dengan MU, maka ia akan
setia. Gimana nggak setia, mau nyusruk kayak apapun, hampir masuk zona
degradasi, kalah beruntun, kami tetap setia. Istilahnya begini, "Menang, kami senang. Kalah tidak kami tinggalkan". Nah, sama klub bola aja setia,
apalagi sama pasangan ππ€.
Alhamdulillah, saya dan Mas Suami sama-sama fans MU , jadi nggak ada adegan rebutan remot TV kalo ada pertandingan MUπ₯°. Tahun ini, pernikahan
kami In syaa Allah 20 tahun (and still counting ya, Mas Suami). Dan tetap,
resolusi saya belum berubah, upgrade
skill romantis Mas Suami π₯°.
“Mas, kita ngapalin
Tepuk Sakinah, yuk. Dulu kita nggak pake kayak gitu lho”, ajak saya antusias
suatu hari.
Mas Suami yang cool-nya
11-12 dengan Rangga (dari Film Rangga dan Cinta), mengalihkan pandangan sesaat dari laptop, dan
bertitah, “Sakinah itu bukan karena tepuk, tapi diusahakan melalui tindakan”
Stay cool. Macam
Rangga pokoknya mah. Misi pertama gagal. Next, kita coba lagi dengan
misi yang lain π€.
Apapun itu, benar kata Mas Suami, sakinah harus diupayakan. Sebab, tidak ada pernikahan yang mulus seperti jalan tol. Hubungan suami-istri pun demikian, pasti ada lika-likunya. Konon, salah satu kunci hubungan langgeng adalah sering ngobrol hal-hal yang nggak penting. Karena ngobrol hal nggak penting itu penting. Jadi, sudah ngobrol hal nggak penting apa dengan pasangan hari ini? π



Komentar
Posting Komentar