Manchester United, Tepuk Sakinah dan Wedding Anniversary

 

pelatih MU paling sukses sepanjang masa, 
Opa Alex πŸ˜Š

Tidak ingat tepatnya sejak kapan saya menyukai sepakbola dan bulutangkis. Untuk bulutangkis, kalo disuruh main masih okelah sedikit-sedikit. Suka disini maksudnya lebih ke nonton dan  mengikuti update pertandingan dan dinamika perbulutangkisan nasional maupun internasional. Yang paling epik, tahun 2000, selesai ujian kelulusan SMA, saya nonton Final Indonesia Open secara langsung di Istora Senayan. Diantar kakak sepupu (thank you bro Davi), menyaksikan langsung Taufik Hidayat mengalahkan Ong Ewe Hock dari Malaysia dan berhasil menjuarai Indonesia Open tahun 2000. Ingat sekali waktu itu, saya dibuatkan topi berbentuk kok raksasa dari kertas karton. 

Sayang sekali nggak ada fotonya. Tapi yang menarik adalah, teman bapak yang memang sudah kenal dengan saya, menanyakan kepada Bapak sehari setelahnya: apakah saya ke Istora untuk nonton bulutangkis. Sebab ternyata pertandingan final Indonesia Open tersebut disiarkan secara langsung di TV Nasional. Biasanya saat jeda atau saat perolehan point,  kamera akan zoom in penonton dengan atribut unik. Dan saya salah satunya, dengan topi berbentuk kok raksasa, tertangkap kamera dan nampak di layar kaca😎. It was amazing experience πŸ₯°.

And how about football? Saya fans garis keras Manchester United (MU) dari zaman Pithecanthropus Erectus. Gen z mungkin tidak tahu bahwa MU pernah berjaya. Hai anak muda, izinkan Tante bercerita 😎. Sekitar tahun 1990 hingga awal 2000, tim manapun bakalan keringat dingin kalo tahu akan berhadapan dengan MU. Se-keren dan se-sakti itu MU pada masa jayanya. Treble winner musim 1998-1999 adalah buktinya. Skuad yang saat itu berisi Paul Scholes, David Beckam, Dwigt York, Andy Cole dkk, di bawah pelatih bertangan dingin Alex Ferguson, MU benar-benar menjelma menjadi tim tangguh, macam The Avangers. Yaa....tapi benar adanya bahwa dunia berputar. Satu dekade belakangan ini, entah kalimat apalagi yang bisa menggambarkan ngenes-nya kondisi fans MU. Klub kesayangan mengalami apa yang disebut nyusruk bin terjerembab. Bongkar pasang pemain, pelatih yang bolak balik diganti pihak manajemen, belum juga menemukan racikan yang pas untuk mengembalikan kejayaan MU. Tapiiii, semalam, angin segar sepertinya mulai berhembus. Hilal kembalinya kejayaan mulai tampak. Kemenangan atas Liverpool di Anfield, mulai menghadirkan kembali asa itu. Glory-Glory United πŸ˜.

 

Saat sekolah dulu, saya bahkan rela menyisihkan uang saku demi bisa membeli Tabloid Bola setiap hari Kamis. Dan, yang juga epik terkait kecintaan saya dengan Manchester United adalah, saya kirim surat ke Old Trafford, nama stadion sekaligus markas Manchester United. Menulis surat dengan bahasa inggris yang pas-pas-an dan saya tulis di belakang karton berbentuk logo MU dengan ukuran cukup besar yang saya buat sendiri. Ada aja idenya saat itu, membuat logo MU dalam ukuran besar, lalu dibaliknya saya tulis surat yang isinya memperkenalkan diri sebagai fans MU yang berasal dari Indonesia and bla bla bla. Kalau nggak salah ingat, kartonnya nggak saya lipat, jadi bikin amplop sendiri juga menyesuaikan ukuran kertas kartonnya. *terniat ya πŸ˜…. And Voila...dibalas dong. Kira-kira dua bulan setelahnya datang balasan berupa poscard plus buku yang berisi biodata seluruh pemain dan semacam memorabilia MU dari tahun ketahun. It was best experience too.



balasan langsung dari Old Trafford, markas Manchester United πŸ˜


   masih tersimpan rapi setelah 23 tahun πŸ˜


Ada semacam bercandaan di kalangan fans MU, bahwa kalo cari pasangan itu yang suka dengan MU, maka ia akan setia. Gimana nggak setia, mau nyusruk kayak apapun, hampir masuk zona degradasi, kalah beruntun, kami tetap setia. Istilahnya begini, "Menang, kami senang. Kalah tidak kami tinggalkan". Nah, sama klub bola aja setia, apalagi sama pasangan πŸ˜ŽπŸ€—. 

Alhamdulillah, saya dan Mas Suami sama-sama fans MU , jadi nggak ada adegan rebutan remot TV kalo ada pertandingan MUπŸ₯°. Tahun ini, pernikahan kami In syaa Allah 20 tahun (and still counting ya, Mas Suami). Dan tetap, resolusi saya belum berubah, upgrade skill romantis Mas Suami πŸ₯°.

“Mas, kita ngapalin Tepuk Sakinah, yuk. Dulu kita nggak pake kayak gitu lho”, ajak saya antusias suatu hari.

Mas Suami yang cool-nya 11-12 dengan Rangga (dari Film Rangga dan Cinta), mengalihkan pandangan sesaat dari laptop, dan bertitah, “Sakinah itu bukan karena tepuk, tapi diusahakan melalui tindakan”

Stay cool. Macam Rangga pokoknya mah. Misi pertama gagal. Next, kita coba lagi dengan misi yang lain πŸ€”.

Apapun itu, benar kata Mas Suami, sakinah harus diupayakan. Sebab, tidak ada pernikahan yang mulus seperti jalan tol. Hubungan suami-istri pun demikian, pasti ada lika-likunya. Konon, salah satu kunci hubungan langgeng adalah sering ngobrol hal-hal yang nggak penting. Karena ngobrol hal nggak penting itu penting. Jadi, sudah ngobrol hal nggak penting apa dengan pasangan hari ini? πŸ˜Š

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Movie Time: Ruang Nostalgia (Review Film Rangga dan Cinta)

Resensi: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya

Resensi Animal Farm: RESILIENSI