Novela: Jalan Kamboja No. 13 (part 1)

 Jalan Kamboja No. 13 (part 1)




                                        edit pict. picsart


Hari menjelang senja, saat sepasang suami istri tiba di sebuah rumah tua di dukuh Purwosari. Sang istri turun dari motor dan menyerahkan helm kepada suaminya. Mata sang istri tak lepas menatap bangunan tua di hadapannya. 

"Mas, gede banget rumahnya" 

"Katanya mau yang gede. Dikasih gede malah mengeluh. Yuk, masuk" Tejo menarik tangan Surti, istrinya. Mereka berdua langsung masuk ke rumah tua itu. 

"Kunci udah di Mas Tejo?" tanya Surti saat Tejo mengeluarkan kunci dari sakunya. 

"Iya, tadi Mas ke rumah Pak Karman.  Kuncinya disuruh bawa. Biar nggak bolak-balik." senyum cerah Tejo terlihat jelas saat ia mengajak Surti masuk ke rumah itu. 

"Ini apa nggak terlalu besar, Mas?. Cuma buat bertiga lho." Surti masih melakukan room tour, sambil membuka satu persatu kamar di lantai satu. Tejo mengikuti dari belakang. 

"Rumah ini harga sewanya murah, Dik. Hanya satu juta satu tahun" tutur Tejo.

"Satu juta untuk rumah sebesar ini?" Surti kaget bukan kepalang saat mengetahui fakta itu. Tejo hanya tersenyum sambil menganggukan kepala. 

"Makanya Mas ambil. Lagi pula, Budi pasti senang di sini.  Bisa lari-larian.  Luas begini rumahnya. Nggak begitu jauh juga dari pabrik." Tejo membayangkan anak semata wayangnya yang berusia satu tahun akan betah tinggal di kontrakan baru mereka. 

"Lantai dua, ada kamar juga, Mas?" Room tour mereka berhenti tepat di dekat tangga. 

"Ada, dua kamar. Tapi kata Pak Karman, kalau kita nggak pakai, nggak apa-apa. Cukup dibersihkan saja setiap hari." Surti menatap ke lantai dua yang tampak gelap. Dia membayangkan jika harus membersihkan seluruh rumah ini seorang diri, mungkin tiga hari saja sudah tidak sanggup. 

"Iya, Mas. Kita pakai yang lantai bawah saja. Kamarnya ada tiga. InsyaAllah cukup." ucap Surti. 

"Nanti lantai atas, biar Mas yang bersihkan.  Walaupun kita nggak memakainya, harus tetap dibersihkan." Tejo tidak akan tega membiarkan istrinya kelelahan seorang diri membersihkan rumah sebesar ini. Belum lagi ditambah mengasuh si kecil Budi yang sedang aktif-aktifnya.

"Janji ya, Mas bantu bersihin rumah ini" Tejo mengangguk mantap. 

"Yuk, hampir maghrib. Kita jemput Budi di rumah Mbak Lastri, lalu kita pulang." ajak Tejo kepada Surti. 

-----------

Dua hari kemudian, mereka bertiga sudah resmi menghuni rumah yang terletak di Jalan Kamboja No.13. Seperti dugaan Tejo, Budi tampak betah tinggal di rumah itu.  Ia berlarian kesana kemari, seperti tidak ada rasa lelah. 

Hari ini, hari kelima setelah mereka pindah. Sebenarnya pindah kontrakan bukan hal baru bagi Surti dan Tejo.  Akan tetapi, rumah kontrakan yang sekarang lebih besar dari kontrakan sebelumnya. Sehingga kepindahan mereka kali ini sedikit lebih melelahkan karena harus membersihkan rumah sebesar ini.

Tejo baru pulang dari pabrik tempat ia bekerja dan mendapati istrinya sedang berada di dapur. 

"Budi mana?" Tejo bertanya usai mengucap salam. 

"Di kamar, Mas. Ini aku tinggal sebentar, ambil minum"

Tejo menuju kamar tempat Budi berada. Dari dapur, Tejo mendengar gelak tawa Budi. Tejo segera berlari. Ia sungguh penasaran. Pasalnya, penghuni rumah ini hanya ia, Surti dan Budi. Jika Surti sedang di dapur, lantas dengan siapa Budi bercengkrama? .

"Assalamualaikum Budi.." Tejo biasa mengucap salam saat baru bertemu Budi setiap pulang bekerja. Budi menengok ke arah Tejo. Lalu ia berdiri dan berlari menuju ayahnya. 

"Ayaaahhh" Budi memanggil sang ayah sambil merentangkan tangannya. Tejo segera menggendong Budi. Membawanya dalam pelukan hangatnya. Masih dalam gendongannya, Tejo bisa melihat Budi menatap ke arah pojok kamar mereka. Senyum Budi kembali tampak. Bahkan diselingi tawa kecil yang jelas terdengar oleh Tejo. 

"Sayang, lihat apa Nak?" Tejo mencoba mengalihkan perhatian Budi. 

"Mamas...mamas.." racau Budi tidak jelas. 

Tejo segera membawa Budi ke luar kamar. 

-----------

Tiga hari kemudian... 

"Mas, kalau dilihat-lihat kita tuh nggak punya tetangga ya. Paling dekat di ujung jalan dekat jalan raya itu, kan?. Terus semakin jauh masuk Jalan Kamboja nggak ada rumah lagi" Surti menyampaikan hasil analisisnya kepada Tejo saat makan malam. Sebenarnya, Tejo sudah mengetahui itu. Bahkan sejak awal ketika ia survei rumah ini. 

"Terus Mas tahu nggak, kenapa jalan depan dikasih nama jalan kamboja?" Tejo menggeleng. Ah, tentu saja ia berbohong. 

"Karena, lurus terus di ujung jalan ini ada pemakaman umum gitu, Mas. Rumah ini rumah terakhir sebelum kuburan" kata Surti menjawab pertanyaannya sendiri. Tejo memperhatikan reaksi sang istri dengan seksama. Kenapa istrinya nggak kelihatan takut? 

"Takut?" tanya Tejo menyuarakan isi hatinya

"Ya nggaklah. Ngapain takut." Reaksi yang sungguh di luar dugaan Tejo.

"Nih ya Mas, rumah gede begini, mana murah lagi uang sewanya. Aku mah betah tinggal di sini." lanjut Surti. 

Tejo tahu dari awal semua informasi tentang rumah ini. Selain dari Pak Karman, beberapa orang yang ditemui ketika pertama kali survei, juga sudah memperingatkan bahwa konon ada 'penunggu' di rumah nomor 13 ini. Untuk rumah sebesar ini, harga sewa satu juta per tahun termasuk cukup murah. Tentu saja, karena tidak ada yang mau menyewanya. Bagi si pemilik, yang penting ada yang menempati rumah ini. Masalah harga sewa dibayar murah tak masalah. Pak Karman bahkan sempat meminta Tejo untuk mencari kontrakan lain. Pak Karman ini hanya yang memegang kunci saja. Pemiliknya orang Surabaya. Tapi Tejo menolak, karena ia tidak tahu lagi harus mencari kemana rumah kontrakan dengan harga sewa yang murah.  

"Mas, kata ibu yang jual sayur, rumah ini dulunya rumah peninggalan tentara Jepang. Waktu Hiroshima Nagasaki dibom, tentara Jepang itu pulang ke negaranya. Istrinya itu orang asli Indonesia. Karena sedih ditinggal suaminya kembali ke Jepang dan nggak ada kabar beritanya selama bertahun-tahun, si wanita ini gantung diri. Sebelumnya ia meracuni tiga anaknya. Jadi mati bareng gitu, Mas" lagi-lagi Tejo takjub mendengar cerita panjang dari Surti.  Bukan karena ia baru tahu cerita itu, tapi karena ekspresi Surti yang 'biasa saja'. Tejo menutup rapat cerita tentang penunggu rumah ini dari Surti, karena khawatir sang istri merasa takut dan memintanya mencari tempat tinggal lain. 

"Tahu nggak, Mas. Kamar atas yang pojok itu, katanya kamar yang buat bunuh diri lho" ucap Surti setengah berbisik. 

Tejo kira, istrinya tidak seberani itu. Ternyata dugaannya keliru. 

"Kamu nggak takut?" pancing Tejo. 

"Nggak. Orang nggak ada apa-apa" jawab Surti santai. Tejo menatap lekat wajah sang istri. Mencari celah kebongan di sana. Hasilnya nihil. Surti benar-benar jujur saat mengatakan bahwa ia tidak takut. Sejujurnya Tejo lega, itu artinya ia terbebas dari desakan sang istri untuk mencari tempat tinggal baru. Walaupun sebenarnya, ia sendiri yang merasa kurang nyaman, karena ia yang selalu 'merasakan' semua yang orang-orang bicarakan tentang penunggu rumah itu. 

Tempo hari, saat Budi tertawa sendiri di kamar, ia yakin ada sesuatu di pojok kamar yang hanya dapat dilihat oleh Budi.  

Pernah juga, suatu malam, Tejo terbangun karena mendengar suara dari televisi. Padahal ia yakin sebelum tidur sudah mematikannya.

Lain hari, saat menyalakan lampu kamar di lantai dua, Tejo mendapati kran air di kamar mandi menyala. Padahal ia yakin tidak membukanya. 

Ah, biarlah...siapapun dia atau mereka,  sepanjang tidak saling mengganggu, bagi Tejo tidak masalah. Satu juta untuk satu tahun, di mana lagi ia bisa mendapatkannya?


*bersambung*


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Movie Time: Ruang Nostalgia (Review Film Rangga dan Cinta)

Resensi Animal Farm: RESILIENSI

Resensi: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya