Jalan Kamboja No.13 (part 3)

 Jalan Kamboja No. 13 (part 3)



pict from picsart


Mereka berdua saling menatap, Tejo dan Surti berbaju putih. Hanya tiga detik, karena tepat saat Tejo berkedip, Surti menghilang. Secepat kilat, Tejo berlari kembali ke dalam rumah. Telepon yang masih dalam sambungan segera dimatikan. 

"Surti!!! Budi!!!." Teriak Tejo sejak langkah pertama setelah turun dari motor. Teriakan Tejo masih terus terdengar hingga ia masuk ke dalam rumah. 

"Ada apa,Mas? Kenapa teriak sih?" sungut Surti sambil tergopoh-gopong keluar dari kamar. Tejo masih terengah-engah. Ia setengah membungkuk dengan kedua tangan memegang lututnya. Sambil mengatur nafas, mata Tejo menatap sekeliling mencari keberadaan Budi. 

"Kamu di sini?" pertanyaan Tejo membuat Surti mengerutkan dahi. 

"Ya di sini. Memangnya mau di mana lagi?" 

"Budi mana?" 

"Itu di kamar. Minta ganti baju yang gambar Upin Ipin" jawab Surti sambil berlalu ke kamar, meninggalkan Tejo yang masih terkejut dengan pemandangan di jendela tadi. 

"Kenapa balik lagi? ada yang ketinggalan?" Surti menerima kaos yang telah Budi temukan. Lemari baju itu kini berantakan karena ulah Budi. Dengan wajah sumringah, Budi dibantu Surti mengganti kaos yang sedang dipakai dengan kaos bergambar duo plonthos dari Malaysia itu. 

Tejo menatap Surti. Istrinya itu masih memakai daster yang sama dengan yang dipakai ketika mengantar Tejo ke depan. Daster batik. 

"Mas...ditanya lho. Malah diem aja" Kalimat Surti membuat Tejo tergagap. 

"Itu...aku..aku.." Tejo bingung menjelaskannya. 

"Ada yang ketinggalan?" ulang Surti

"Nggak. Itu mau cek bohlam atas. Barangkali putus, nanti pulang kerja mau beli sekalian" Tanpa menunggu reaksi Surti, Tejo segera menuju lantai dua. 

"Bismillahirrahmanirrahim" Tejo merapalkan basmalah sebelum masuk kamar pojok tersebut. Biasanya ia pun selalu berdoa sebelum memasuki ruangan itu. Tejo tahu betul setiap detail cerita tentang si tentara Jepang dan keluarganya. Hanya saja kali ini, ia merasa harus melafalkannya, tidak hanya dalam hati. 

Kosong. 

Itulah pemandangan yang Tejo temui begitu membuka pintu kamar. 

Tejo melangkah masuk mendekati jendela. Berdiri tepat di mana tadi Surti berbaju putih berdiri. 

Tiba-tiba sebuah suara kembali terdengar. 

"Mas..." Bulu kuduk Tejo langsung berdiri. Detak jantung tak beraturan. Ragu ia menoleh. Sambil mengucapkan 'Allahu Akbar' dengan lantang, Tejo membalikkan badan. 

Surti berdiri di depan pintu.  Surti dengan daster batik, bukan baju putih. 

"Ngapain berdiri di situ. Pake takbir segala?" tatap Surti heran. 

"Siapa kamu?" detak jantung Tejo masih tak beraturan. 

"Aku?. Mas kira siapa? Putri duyung? Seloroh Surti. Ia berjalan mendekati Tejo.

Mata Tejo mengerjap berkali-kali. Tetapi Surti yang di depannya ini tidak menghilang. Berbeda dengan Surti yang tadi dilihatnya di jendela. Dalam satu kedipan mata, ia menghilang. 

"Mas kenapa kedip-kedip?  Cacingan?"

Tejo mencubit Surti yang sudah berdiri di sampingnya. 

"Aduh, kenapa dicubit sih" Surti mengusap lengan yang dicubit Tejo. 

"Kamu asli kan?" Tejo menoel pipi Surti. 

"Kamu ini kenapa sih, Mas. Aneh" gerutu Surti. Tangannya menghalau tangan Tejo yang masih ingin memegang wajahnya. 

"Kamu sakit?" punggung tangan Surti ditempelkan di kening Tejo. Tejo hanya menggeleng. 

"Udah yuk, turun. Mas harus segera berangkat." ajak Tejo. 

"Lampu gimana?"

"Iya, nanti Mas beli sepulang kerja"

Tejo belum akan menceritakan apapun kepada Surti. Ia khawatir istrinya itu akan ketakutan. Walaupun belakangan  level keberanian sang istri naik 10 kali lipat. Tetapi ini masih sangat prematur bagi Tejo. 

Setelah kembali berpamitan dengan Surti dan Budi, Tejo segera berlalu ke pabrik tempatnya bekerja. Ah ya,  dan juga setelah ia menerima telepon dari temannya yang tadi sempat ia putuskan sambungannya secara sepihak.

****

"Wan, pernah lihat hantu nggak?" Tejo bertanya kepada Iwan, rekan kerjanya di pabrik. Mereka baru selesai jamaah sholat dhuhur. 

"Pernah. Kenapa?. Baru lihat hantu juga?" tanya Iwan.

"Kayaknya sih," jawaban Tejo terdengar kurang meyakinkan. Seumur hidup, baru kali ini Tejo melihat penampakan. Ia masih belum yakin dengan apa yang dilihat tadi pagi. Iwan hanya tersenyum mendengar jawaban Tejo.

"Di kontrakan yang baru?" Tejo pernah bercerita kepada Iwan perihal kondisi rumah kontrakannya. Tejo menggangguk. 

"Yang begituan memang ada" santai Iwan menanggapi. 

"Buat sholat, tilawah. Setelin juga tuh murottal di lantai dua. Eh, tapi 'dia' ganggu nggak?" Iwan menjetikkan kedua tangannya membentuk tanda kutip saat menyebut 'dia'. 

"Sejauh ini nggak sih. Muncul gitu aja" Tejo tidak bercerita detail perihal yang ia lihat pagi tadi. Iwan pun tidak bertanya. Tejo justru bercerita tentang Surti yang berubah jadi pemberani. 

"Alhamdulillah kalo begitu. Memang perempuan itu kalau untuk urusan pengeluaran biar irit, apa aja dilakukan" kata Iwan sambil tertawa. 

"Terus ruang atas jangan dibersihkan aja. Buat aktifitas gitu. Sholat jamaah sama tilawah di lantai dua. Si Budi juga bisa diajak main di sana. Tapi harus dipasang pintu tambahan di dekat tangga ya. Takut Budi nyelonong" Saran Iwan. Beberapa hari yang lalu Iwan sempat berkunjung ke kontrakannya. Sehingga Iwan cukup tahu kondisi ruangan di lantai dua.

"Jangan lupa, lampu kasih watt yang gede, biar terang. Kamar pojok terutama." Sambung Iwan.

*******

Obrolan dengan Iwan siang tadi benar-benar dilaksanakan oleh Tejo. Sebagai langkah pertama, lampu di lantai dua sengaja memakai watt yang besar. Sehingga lebih terang. Tejo bahkan mengajak Budi untuk bermain di lantai dua, tetapi masih harus ekstra waspada, karena ia belum memasang pintu tambahan di dekat tangga. 

"Kenapa Mas, tiba-tiba dibikin kayak begini" Surti melihat sekeliling lantai dua yang tampak terang dan rapi.

"Ya, pengen aja. Kita mengontrak kan satu rumah. Sayang kalo nggak dipake" dalih Tejo. Surti hanya menganguk-angguk sambil mengawasi Budi. 

Tejo mengajak Budi bermain sambil mengajarinya beberapa doa-doa pendek. Sesekali, Budi menunjuk ke sebuah sudut di kamar pojok sambil berucap 'Mamas...Mamas'. 

Tejo tidak melihat apapun di titik yang ditunjuk Budi. 

"Ada apa sih, Nak. Thomas kan udah tadi di tv. Nggak ada Thomas di sini" ucap Surti mengusap kepala Budi dan menciumnya. 

Tejo merasa benar-benar harus melakukan segala yang disarankan Iwan. Setelah Tejo melihat Surti berbaju putih di jendela, ia jadi ragu, "mamas" yang dilihat Budi, bukan "Thomas". Tetapi sesuatu yang lain, yang hanya bisa dilihat oleh putra semata wayangnya. 

"Turun, yuk. Udah malam" ajak Tejo akhirnya. 

Surti menggendong Budi menuruni tangga. Tejo mengecek jendela,lampu dan kran. Semua aman. 

Tiga puluh menit kemudian, Budi sudah terlelap. 

"Mas, aku mau ambil minum putih.  Mas mau?" tawar Surti. 

"Boleh. Tolong ambilkan sekalian ya?" pinta Tejo. Surti segera berlalu menuju dapur. 

Setelah mengganti baju koko dengan kaos untuk tidur, Tejo bercermin. Ia penasaran dengan tumbuhnya uban di rambutnya. Ia berharap tidak menemukannya lagi dalam waktu dekat. Bukankah dua puluh lima tahun belum layak untuk dipanggil 'Mbah' pikir Tejo. 

Saat sedang berburu uban sambil menikmati kegantengannya yang hakiki di cermin, Tejo melihat Surti melintas di depan kamar, tepatnya dari ruang tamu menuju dapur. Ia melihat hal itu melalui cermin yang dipasang di dinding menghadap ke arah pintu kamar. Posisi Tejo membelakangi pintu. Eh, bukankan tadi Surti sedang di dapur?. Dan baju Surti gambar bunga, bukan baju putih seperti yang baru saja Tejo lihat. Melupakan uban dan kegantengan yang hakiki, Tejo bergegas menuju dapur. 

"Surti!!!" teriak Tejo sambil berlari. 

"Apa sih, Mas. Teriak-teriak begitu. Budi bangun nanti" Surti menyerahkan segelas air putih kepada Tejo. 

Setelah mengucapkan terimakasih, Tejo duduk dan mengabiskan air putih.

"Kenapa sih, belakangan ini Mas aneh. Suka teriak-teriak nggak jelas" selidik Surti. 

"Udah sana, kamu masuk kamar dulu. Mas mau ke atas sebentar. Ada yang ketinggalan" Tejo tidak menjawab pertanyaan Surti. 

"Jangan lama-lama, takut nih" jawaban Surti membuat Tejo menatap sang istri lekat. Kalimat seperti itu belum pernah ia dengar dari mulut Surti sejak tinggal di rumah ini. 

Tejo mengusap kepala Surti sambil mengangguk. Lalu Surti berjalan menuju kamar, dengan tatapan Tejo yang masih menatap punggungnya. Kepala Surti bisa Tejo pegang, baju bunga-bunga, kaki menapak lantai. Ah, berarti dia Surti yang asli. Bukan hantu. Pikir Tejo. 

Tejo menaiki anak tangga dengan pelan. Mulutnya merapalkan ayat kursi dan terus berdzikir. 

Saat tiba di kamar pojok, ia mendapati jendela telah terbuka. Padahal Tejo yakin, tadi ia sudah menutupnya.

Dengan keberanian level seratus, Tejo berbicara,  

"Assalaamualaikum....Mbak, begini ya, saya percaya, Mbak ada di sini. Sama anak-anak Mbak juga. Tapi tolong, jangan ganggu kami, saya, istri dan anak saya." Entah kepada siapa Tejo mengucapkan kalimat tersebut. Jangan ditanya bulu kuduk Tejo. Sudah berdiri tegak macam landak. 

Sesaat kemudian, terdengar sebuah suara yang membuat Tejo membelalakkan mata. 

"Mas Tejo...." panggil seseorang di belakangnya. Lampu kamar yang tadi sudah menyala seketika padam. Tejo tak tahu lagi apa yang akan dilihatnya saat ia membalikkan badan. Tetapi ia harus melakukannya jika ingin mengetahuinya.


bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Movie Time: Ruang Nostalgia (Review Film Rangga dan Cinta)

Resensi Animal Farm: RESILIENSI

Resensi: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya