Jalan Kamboja No.13 (part 2)
Jalan Kamboja No. 13 (part 2)
Jalan Kamboja No.13 (part 2)
pict from picsArt
Sejak awal mengenal Surti, Tejo kira wanita yang kini telah menjadi istrinya ini adalah orang yang penakut. Bukan termasuk phasmofobia, namun ia orang yang sangat tidak menyukai daerah yang sepi. Bahkan sejak menikah dan memutuskan mengontrak rumah, Surti berpesan agar Tejo mencari rumah yang dekat dengan tetangga. Surti juga tidak suka gelap. Awal menikah, mereka sempat ribut kecil, gara-gara Surti tidak bisa tidur dalam keadaan gelap, sedangkan Tejo tidak bisa tidur dalam keadaan lampu menyala. Tapi semua berubah sejak mereka tinggal di rumah besar itu. Siapa yang menolak uang sewa semurah itu kan?. Ya, demi uang sewa yang murah, Surti pun berubah. Ia menyukai sepi dan gelap.
"Lho, dik, dari mana? Aku kira dari tadi di kamar, nidurin Budi." Tejo yang sedang menonton televisi menatap heran sang istri yang sedang menuruni tangga. Tejo bahkan tidak mengetahui kapan Surti naik, saking fokusnya pada pertandingan Liga Inggris di televisi.
"Dari atas." jawab Surti singkat sambil berlalu ke dapur. Tejo yang masih penasaran, mengikuti sang istri ke dapur.
"Ngapain ke atas?. Lampu sudah Mas nyalain tadi lho. Tapi lampu kamar yang pojok itu memang mati. Besok Mas cek deh, mungkin saluran listriknya yang konslet atau bohlamnya memang harus diganti."
"Ngecek jendela. Kemarin kan Mas lupa, nggak nutup jendela kamar pojok" tutur Surti sambil tersenyum. Surti mengambil gelas, menuang air putih dan menghabiskannya dalam sekejap. Tejo ingat, tadi pagi saat hendak membuka jendela kamar atas, posisi jendela tersebut sudah dalam kondisi terbuka. Tejo sempat mengernyitkan dahi, karena seingatnya, kemarin sore ia sudah menutup jendela berteralis tersebut.
"Kamu ke kamar pojok? Berani? Gelap lho itu." selidik Tejo.
"Berani lah. Kenapa nggak berani?" Surti balik bertanya.
"Ya hebat aja. Dulu kan kamu nggak suka gelap."
"Itu kan dulu. Sekarang beda" Surti mengusap lengan kiri Tejo.
Tejo benar-benar takjub dengan level keberanian sang istri yang naik sepuluh kali lipat.
Kecupan Surti di pipi, mengagetkan lelaki dua puluh lima tahun itu.
"Tidur yuk, Mas" ajak Surti yang dibalas anggukan Tejo. Tentang jendela kamar pojok yang belum ditutup, mungkin memang benar, dia yang lupa, pikir Tejo. Tempo hari, saat Tejo menyisir rambut, ia menemukan satu uban di rambutnya. Ini yang orang bilang tanda-tanda penuaan dini, mudah lupa dan muncul uban.
****
Pagi ini, selepas sholat shubuh, seperti biasa Tejo membantu Surti menyapu dan mengepel rumah. Tejo tidak ingin Surti kelelahan mengurus rumah sebesar ini dan menjaga putra semata wayangnya, Budi. Sementara Surti, sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Budi, sarapan yuk, bareng Ayah" ajak Tejo kepada sang putra. Dalam gendongan Tejo, Budi terus mengoceh. Sesekali terdengar jelas, Budi mengucapkan 'Mamas..Mamas'. Tejo hanya mengernyitkan dahi sambil mengendongnya menuju dapur. Usia Budi baru satu tahun. Meski sudah lancar berjalan, tetapi bicara Budi belum begitu jelas. Baru sebatas racauan-racauan yang Tejo belum paham artinya. Ah ya, kecuali memanggil 'ayah' yang sudah sangat jelas.
"Bund, ini Budi sering banget ngomong 'mamas..mamas..' maksudnya apa ya? tanya Tejo setelah mereka tiba di dapur.
"Itu lho, Ayah....Budi kan lagi seneng banget nonton Thomas and Friend, film kartun anak-anak" jawab Surti seraya mengambilkan nasi untuk Tejo. Mereka berdua akan mengganti panggilan menjadi 'ayah-bunda' jika di depan Budi.
Tejo hanya mengganguk-anggukan kepala. Jadi 'mamas' itu 'Thomas'. Ia merasa lega sekarang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tentang Budi ataupun tentang rumah ini.
****
Selesai sarapan bersama, Tejo bersiap berangkat kerja. Sambil menggendong Budi, Surti mengantar Tejo sampai depan pintu. Biasanya, Surti dan Budi baru akan masuk ke rumah setelah Tejo melajukan motornya. Tetapi hari ini Budi merengek minta masuk. Ia turun dari gendongan Surti dan menarik-narik dasternya, mengajak masuk ke dalam.
"Udah nggak apa-apa, Bun. Masuk aja. Rewel tuh Budi. Nak, Ayah berangkat ya." Setelah bersalaman dan mencium tangan Tejo, Surti dan Budi masuk rumah.
Setelah menyalakan motor dan bersiap melaju, hanphone Tejo berbunyi. Ia pun memutuskan menerima panggilan telepon terlebih dahulu. Saat itulah, ia merasa ada seseorang yang memanggilnya dari arah rumah. Sehingga sambil menerima telepon, Tejo menoleh ke belakang. Tetapi tidak ia temukan siapapun. Tapi...tunggu. Tejo melihat Surti di lantai dua. Tepatnya di jendela kamar yang terletak di pojok.
Dari luar, Tejo melihat jelas, bahwa perempuan di jendela itu adalah Surti. Tetapi kenapa ia ganti baju?. Tadi seingat Tejo, Surti mengenakan daster batik. Lalu kenapa sekarang memakai baju putih?. Secepat itu, Surti mengganti baju? Lalu dimana Budi?
"Surti?" Tejo menggumam pelan menyebutkan nama istrinya.
--bersambung--
Komentar
Posting Komentar