Movie Time: Bumi Manusia

BUMI MANUSIA

--Tragedi Cinta Anak Pribumi--


Fresh from the oven niihh. Baru banget pulang nonton Babang Minke 😊.

Pertama,ini film durasi panjaaanggg, 2 jam 52 menit. Sebelum nonton sebaiknya ke toilet dulu yes. Selama nonton, jangan kebanyakan minum, ganggu banget kalo harus bolak-balik πŸ˜….

Kedua, yang udah baca novelnya,coba tinggalkan dulu kenangan bersamanya,eh maksudnya fokus ke filmnya dulu. Biar nggak membandingkan antara film dan novel. Supaya nggak ada pertanyaan, which one is better?. Karena versi novel tentu saja berbeda dengan filmnya. Oke?

Awesome😍. Itu kesan yang saya dapat setelah menonton film Bumi Manusia. Saya bukan penggemar karya-karya Hanung,bukan juga penggemar berat Pramoedya Ananta Toer dan bukan fans Iqbaal Ramadhan. Tapi,saya memang sudah membaca novel Bumi Manusia. Jadi sebenarnya, sebelum nonton film ini belum banyak buku Pramoedya yang saya baca 😊.Ini buku kedua setelah sebelumnya selesai baca 'Sekali Peristiwa di Banten Selatan'.




 

Harus diakui bahwa karya-karya Pramoedya ini lebih dari sekedar novel. Tulisan-tuisan Pram ini bisa dibilang sebagai "buku sejarah" yang menceritakan tentang Indonesia di zaman kolonial. Tentang bagaimana perjuangan rakyat pribumi yang ditindas di negerinya sendiri.


Novel ini pertamakali rilis yaitu tahun 1980. Berarti kurang lebih 39 tahun yang lalu. Sebuah buku berumur puluhan tahun dan difilmkan di tahun yang bisa dibilang ada di generasi yang berbeda. Jujur sangat penasaran. Mungkin,tantangan inilah yang coba dijawab oleh Hanung Bramantyo. Membuat film Bumi Manusia "selezat" novelnya.

Salah satu trik Hanung untuk membuat Bumi Manusia "rasa milenial" adalah dengan menggaet Iqbaal eks CJR. Awalnya,saya pikir: "yaahh..Iqbaal maning,Iqbaal maning." πŸ˜„ (karena belum lepas dari ingatan,saat ia memerankan Dylan). Tetapi ternyata Iqbaal bisa ciamik memerankan Minke,seorang ningrat, anak bupati di era 1900-an😍😍. Jika saya ditanya Bumi Manusia ini film tentang perjuangan atau film percintaan? Maka saya jawab,keduanya. Om Hanung cukup jeli untuk memilih part-part dari novel yang kemudian dibuat adegan,dan   sangat bisa mewakili kisah tentang perjuangan melawan kolonial dan kisah cintanya.

Adegan demi adegan juga dibuat tidak membosankan. Saya aja, beli popcorn dan soft drink,sama sekali nggak tersentuh sampai akhir film. Semuanya dibawa pulang dalam keadaan utuh πŸ˜„πŸ˜„. Saking tidak inginnya melewatkan barang sedikitpun adegan. Kalau  bisa nggak kedip deh πŸ˜…πŸ˜…. Untuk novel setebal 535 halaman, kemudian diangkat ke layar lebar dengan durasi 2 jam 52 menit ini, menurut saya sudah cukup pas. Sebenarnya bukan pada berapa lama durasi film,tetapi kemampuan film menyampaikan keutuhan cerita di novel.  Dan ini penulis skenarionya sih yang juara😍. Tidak mungkin juga semua part di novel dibuat adegan kan?


Selain Iqbaal, kunci sukses film ini ada pada totalitas Inne Febrianti, pemeran Nyai Ontosoroh. Ibu dari Annelies ini digambarkan sebagai simbol perlawanan pribumi terhadap bangsa kolonial. Saya benar-benar bisa merasakan tekad baja Nyai Ontosoroh ketika harus berjuang untuk mempertahankan Annelies agar tetap berada di sisinya.

Mungkin bagi para pengamat film,masih ada kekurangan pada film ini. Blocking  atau unsur teknis lainnya. Tetapi bagi saya yang hanya penikmat, Bumi Manusia sangat menyenangkan untuk dinikmati. Benar-benar memberikan pengalaman baru, menikmati Indonesia di era 1900-an. Ikut merasakan saat Minke dan Annelies saling menatap penuh cinta😍, merasakan juga spirit fighting Nyai Ontosoroh saat berhadapan  dengan Pengadilan Bangsa Belanda dan jangan lupakan juga, qoute-quote khas Pram yang menjadi dialog para tokoh di dalam film menambah kekuatan Bumi Manusia versi layar lebar.


Satu lagi yang tak kalah penting dari sebuah film adalah soundtrack. Ibu Pertiwi, lagu yang dipilih sebagai soundtrack Bumi Manusia dinyanyikan dengan super duper keren oleh Iwan Fals, Once dan Fiersa Besari 😍😍. Aransemen Ibu Pertiwi dibuat sangat grande dan menjadi opening serta ending yan
g sempurna.  Mendadak suka sama lagu ini 😍😍.


Over all, film Bumi Manusia membuat saya melihat arti sebuah perjuangan. Perjuangan pribumi melawan kolonial,perjuangan Nyai Ontosoroh mempertahankan Annelies dan perjuangan Minke mempertahankan kekasih hatinya. Meski harus berakhir dengan kekalahan, tetapi itu lebih baik. Karena kalah setelah berjuang lebih nikmat daripada tidak berbuat apapun πŸ˜‡πŸ˜‡

Quote favorit, sebuah kalimat dari Nyai Ontosoroh, yang sukses membuat saya mencapai titik klimaks dalam hal menangisπŸ˜…πŸ˜…. Basah nggak karuan jilbab saya πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ.

"Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya" (Nyai Ontosoroh)


*Bumi manusia ini tetralogi dari karya Pramoedya yang terdiri dari: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. And than,setelah nonton film ini,saya jadi tertarik dengan tiga buku dari tetralogi tersebut yang belum saya baca. Ah, sepertinya sebentar lagi saya benar-benar menjadi penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer😊😊

Banjarnegara, 16 Agustus 2019

πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Movie Time: Ruang Nostalgia (Review Film Rangga dan Cinta)

Resensi: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya

Resensi Animal Farm: RESILIENSI