Movie Time: Angel Has Fallen

ANGEL HAS FALLEN

--Another Has Fallen--

 

 

 

 Sebagai penggemar film action (saya mah penggemar semua genre film, dari mulai action, film romance,horor, komedi, apalagi kalau dibayarin nontonnya πŸ™ˆπŸ™ˆ), saya nunggu banget nih film Angel Has Fallen (AHF) . Film ini adalah film ketiga setelah Olympus Has Fallen (2013) dan London Has Fallen (2016).

Sebelum review filmnya, mau cerita sedikit nih perjuangan hingga akhirnya bisa nonton film ini. Hasil stalking di ig @suryayudhacinema, film ini akan turun layar hari selasa. Umurnya cuma lima hari di Banjarnegara (naik layar dari tanggal dua puluh tiga πŸ˜…πŸ˜…). Langsung dong ke SYC. Pas sampai di depan loket, mbak-mbak tiket bilang, harus nunggu dulu karena jumlah minimal penonton dalam satu cinema adalah tujuh. Dan saya nomor wahidπŸ˜†. Padahal waktu itu sudah jam 15.30. Sepuluh menit kemudian, terkumpullah (hanya) lima orang. Kami mengobrol di satu sudut ruang tunggu. Topiknya? Apalagi kalau bukan London Has Fallen (LHF) dan Olympus Has Fallen (OHF). Kami berlima seperti alien di tengah penonton Bumi Manusia yang membludak. Yang antri sampai mengular πŸ˜…πŸ˜….

Si bos (kayaknya sih bos ya, wong tampilannya beda sama mbak dan mas di loket tiketπŸ˜…) sampai turun tangan, sebelum memutuskan apakah cinema 2 tetap akan memutar Angel Has Fallen hanya dengan lima penonton atau tidak. Tanpa komando, kami berlima sama-sama pasang tampang memelas. Super mupeng. Berulang kali mbak dan mas kasir menunjuk ke titik tempat kami duduk.

Akhirnyaaaa...terimakasih pak bos, finally dengan hanya lima penonton,film tetap diputar 😍😍. Langsung deh kami beli tiket dan duduk sejajar di deret yang sama πŸ˜„πŸ˜„.

Seperti dua film sebelumnya, AHF masih mendapuk om Gerard Butler sebagai Mike Banning si Secret Service Agen alias pampampres yang selalu total dalam bekerja. Kali ini, ia difitnah melakukan tindakan percobaan pembunuhan terhadap presiden USA, Speaker Trumbul yang diperankan dengan sangat kece oleh Eyang Morgan Freeman. Jika di OHF Trumbul masih menjabat sebagai juru bicara kepresidenan,maka di AHF, ia "naik pangkat" menjadi orang nomor satu di Amerika.

Alur film macam ini sangat mudah ditebak. Penyerangan terhadap Amerika, membahayakan presiden, ternyata ada penghianat, lalu muncul pahlawan yang akan menyelesaikan semuanya. Tapi, buat saya yang sukaaa banget film jenis ini, tetep aja ditonton πŸ˜„πŸ˜„. Seruuu πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„.

AHF bukan film pertama yang berkisah tentang penyanderaan atau percobaan pembunuhan terhadap presiden AS. Olympus Has Fallen dan London Has Fallen jelas film yang bertema sama. Jauh sebelumnya, Air Force One menceritakan tentang Horrison Ford yang harus berjibaku di atas ribuan kaki dalam pesawat "Air Force One" untuk melawan kelompok yang mereka sebut "teroris Kazakhstan".

Sang sutradara, Ric Roman Waugh harus berpikir keras untuk mencari tempat yang menarik untuk lokasi "pertempuran" dari seri ketiga Fallen ini.

Dan hasilnya?. Cukup impresif. Meski seperti saya bilang, alur yang mudah ditebak, Mike Banning yang lagi-lagi menjadi pahlawan, tetapi film ini lebih "hidup". Konflik tidak hanya tentang Mike yang berusaha keras mencari dalang percobaan pembunuhan terhadap Presiden Trumbul, tetapi juga pertemuan Mike dengan Ayah kandungnya setelah berpisah sekian lama.

Dilema juga dialami Mike, karena di usia yang tak lagi muda, ia mulai memikirkan ingin memiliki lebih banyak waktu dengan keluarga kecilnya.  Namun di sisi lain, jiwa secret service-nya membuat Mike ingin tetap berada di garda depan untuk melindungi sang presiden.

Sejak awal,film berdurasi kurang lebih dua jam ini sudah menyajikan adegan full action.  Dan itu terjadi sampai akhir film. Adegan fighting dan baku tembak cukup dominan. Dan itu keren,gaes πŸ˜‰πŸ˜‰.

Well, untuk pecinta film action, Angel Has Fallen recommended deh. Apalagi kalau sudah liat dua film sebelumnya. Pasti bikin penasaran, kali ini gimana aksi penyelamatan yang dilakukan Mike Banning ya?  πŸ˜‰πŸ˜‰.

Moral storynya?. Jangan main pistol sembarangan, bahaya πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†.



30 Agustus 2019


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Movie Time: Ruang Nostalgia (Review Film Rangga dan Cinta)

Resensi: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya

Resensi Animal Farm: RESILIENSI