RESENSI NOVEL: PEREMPUAN MISTERIUS

 

Menyingkap Tabir Masa Lalu

 

 


 Judul Buku                       : Perempuan Misterius

Penulis                             : Nicco Machi

Penerbit                            : Indiva Media Kreasi

Tahun Terbit                   : 2020

Jumlah Halaman             : 239

Harga                              : Rp. 48.000

 

"Ternyata segelap dan semengerikan itu dampak dari sebuah dendam. Perasaan tidak ingin memaafkan yang terus dikipasi syaiton, berubah dari sebongkah kecil menjadi sesuatu yang besar dan sangat destruktif (halaman 232)

Sudah lama sejak terakhir kali saya membaca novel bertema thriller. Jujur, sedikit kurang suka dengan tema yang berpotensi membuat jantungan. Tidak mudah menciptakan alur cerita yang bisa membuat pembaca betah membuka lembar demi lembar, dan 'ikut berpikir' memecahkan sebuah kasus. Jika tidak 'kuat' dari sisi penokohan, konflik, maupun alur cerita, bisa jadi baru beberapa lembar saja pembaca enggan melanjutkan membaca. Perempuan Misterius karya Nicco Machi adalah salah satu novel remaja dengan tema thriller yang sukses memancing rasa penasaran. Sebagai pembaca, saya tidak ingin mengambil jeda ketika membacanya. Penasaran dan ketagihan untuk membuka setiap halaman hingga lembar terakhir.

First impression, covernya keren. Dari judul, cover yang dominan warna hitam, lalu sosok perempuan yang ditampilkan dengan hanya menampakkan setengah dari wajahnya benar-benar penuh misteri. Cukup memantik rasa penasaran saya untuk segera membuka halaman pertama. Perempuan Misterius berkisah tentang Iska, remaja tujuh belas tahun yang harus meninggalkan segala kenyamanan di kota tempat dia tinggal, berpisah dengan sahabat-sahabatnya, teman-teman ekskul tenisnya, dan pindah mengikuti tugas ayahnya ke kota lain. Kisah Iska dimulai saat ia mencoba 'berdamai' dengan kehidupan barunya. Bertemu dengan Ganesh dan Mimi yang kemudian menjadi sahabat baru Iska, menjadi pembuka kisah yang indah. Apalagi sejak dia mengetahui bahwa tidak jauh dari tempat ia tinggal, terdapat lapangan tenis. Olah raga yang menjadi hobinya sejak masih kecil. Semua tampak cukup mudah bagi Iska, sampai muncul seorang perempuan yang sangat misterius. Perempuan yang seolah selalu mengikuti kemanapun Iska pergi.

"Ini...sudah kesekian kalinya dalam dua hari. Lapangan tenis, minimarket, rumah , dan sekarang sekolah" (halaman 82).

Belum sampai terkuak identitas si perempuan misterius, Iska, Mimi, dan Ganesh kembali dihadapkan dengan misteri lain, dari seorang selebgram yang juga berprofesi sebagai dokter hewan, Norman Jupiter. Pertemuan dengan drh. Norman Jupiter yang semula sangat dinanti--apalagi oleh Iska yang bercita-cita menjadi seorang dokter hewan-- ternyata justru membawa mereka ke dalam pusaran misteri yang rumit dan membahayakan. Sebuah misteri yang membuat Iska mengetahui fakta menyedihkan dari masa lalu kedua orangtuanya. Narasi yang sederhana, alur cerita yang tidak berbelit-belit, membuat saya sangat menikmati 'perjalanan' Iska, Ganesh, dan Mimi dalam mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle misteri hingga akhirnya terkuak semuanya. Rasanya seperti membaca karya Enid Blyton versi kearifan lokal. Dan ending novel ini, sukses membuat saya terkejut. Unpredictable.

Sebuah karya, apapun itu bentuknya, sejatinya adalah pembawa pesan bagi para penikmatnya. Dan di novel Perempuan Misterius, it works. Disajikan dengan bahasa yang ringan, mengalir, membuat novel ini sangat mudah untuk dicerna terkait ‘pesan’ yang penulis sampaikan.

Suasana berubah canggung. Iska merasakan pipinya merona dan jantungnya berdetak lebih cepat. Dia menunduk, sembari merutuki diri dalam hati karena bisa-bisanya terjebak situasi semacam ini di saat yang sangat tidak tepat (halaman 209).

Part di atas adalah salah satu part favorit. Bahwa memiliki rasa 'suka' dan 'kagum' terhadap seseorang di masa remaja merupakan bagian dari fitrah manusia. Namun yang harus dipastikan adalah tidak menyiram, memupuk dan menjadikan 'rasa' itu tumbuh subur. Sebab, memang belum saatnya

 


 

Membaca novel ini juga seperti diingatkan kembali tentang 'kekuatan' sebuah tulisan dalam menginfluence pembacanya.

"Aku butuh seragam lengan panjang dan rok panjang." Iska berhenti sejenak. "Aku mau pakai hijab, Pa."

"Menstruasi kan tanda sudah baligh. Jadi aku..." (halaman 65)

Sebuah pengingat tentang kewajiban menutup aurat yang dikemas secara ringan dalam dialog antara Iska dan Ayahnya. Tidak menggurui, tetapi pas kena di hati.

Kelebihan lain dari novel ini adalah sosok Iska yang digambarkan seperti remaja pada umumnya. Bukan sosok yang sempurna tentu saja. Tapi justru disitulah letak kekuatan tokoh Iska ini. Seorang remaja yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Dan sedang berproses ke arah yang lebih baik.

"Iska mendengar Dewinta menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum menjawab dengan penuh semangat, 'Pelatih baru saja mengabari gue, Is. Katanya, gue menjadi perwakilan sekolah untuk High School Tennis Championship!'. Harga diri Iska terluka seketika" (halaman 17).

Sebuah dialog yang menarik. Terkadang dalam menjalani hidup ini, ada riak-riak yang muncul di hati dan berpotensi menjadi negative vibes bagi diri kita. Bagaiamanapun, proses 'menjadi baik' adalah proses seumur hidup. Tidak selalu mulus, sebab terkadang harus menghadapi rintangan. Tugas kita adalah memastikan hati ini tidak ‘mati’. Jika pun redup, pastikan lentera hati kita kembali menyala terang melalui semua hal baik yang kita lakukan.

"Dewinta menjadi juara Tunggal Putri High School Tennis Championship. Iska memberinya selamat--kali ini sepenuh hati. Tidak di grup, melainkan chat pribadi. Dewinta tampak senang dengan ucapan Iska. Sekarang, mereka kembali mengobrol sesekali" (halaman 238).

*rasanya ikut lega dan senang, Iska dan Dewinta kembali berkomunikasi. Good job, Iska.

Lalu, adakah kekurangan dari novel ini?. Dari sisi redaksional, sepanjang saya membacanya tidak menemukan typo. Alurnya pas, tidak bertele-tele. Once again, saya jatuh cinta dengan covernya. Keren. Tapi satu yang 'mengganjal'. Judulnya kurang merepresentasikan isi buku. Sebab yang misterius tidak hanya si perempuan. Norman Jupiter pun tak kalah misteriusnya

 


 

But, over all, Perempuan Misterius recommended untuk semua usia. Bisa dinikmati siapapun. Ibarat masakan, Perempuan Misterius ini seperti Nasi Goreng Spesial. Sederhana, tetapi semakin kita nikmati akan semakin terasa istimewanya. Delicious.

 

Banjarnegara, Februari 2021

Komentar

  1. Hai Mbak Qonata,

    Terima kasih banyak ya sudah membaca dan mengulas novel Perempuan Misterius. Saya sukaaa sekali sama ulasannya, senang banget bacanya dari awal sampai akhir. :') Fotonya juga cantik-cantik banget. Love love.

    Terima kasih atas apresiasi Mbak untuk PM! Saya tersenyum lebar membaca poin-poin yang Mbak ulas di sini. Rasanya belum banyak ulasan PM yang menyorot poin-poin tersebut, terutama di bagian hubungan Iska dan Dewinta. Senang banget saya karena Mbak menangkap bagian itu sama persis seperti maksud saya ketika menuliskannya. :) Betapa setujunya saya dengan kata-kata "proses 'menjadi baik' adalah proses seumur hidup" yang Mbak tulis, dan betapa happy saya karena Mbak ikut lega karena akhirnya Iska bisa melawan "inner evil"-nya dengan menurunkan ego untuk memperbaiki hubungan dengan Dewinta. :')

    Sekali lagi terima kasih banyak ya Mbak, sudah menyempatkan waktu untuk menulis ulasan Perempuan Misterius. ^^

    BalasHapus
  2. Terimakasih kembali🙏🙏😊. Sukses selalu, ditunggu karya-karya selanjutnya. Eh btw, saya sukaaa banget part yang nyeritain tenis. I love tennis so much. Selain Roger Federer dan Serena Williams, saya suka Alexander Zverev😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah senangnyaaa kalo part-part tenisnya disukai. Susah sekali nulis bagian itu, hehe.

      Aaah Zverev keren banget pas ngelawan Domi di US Open tahun lalu! Sampe 5 set ketat gitu!

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Movie Time: Ruang Nostalgia (Review Film Rangga dan Cinta)

Resensi: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya

Resensi Animal Farm: RESILIENSI