Resensi: Memoirs of Stientje
RENJANA
Judul
Buku : Memoirs of Stientje
Penulis : Md. Aminudin
Penerbit : MyBooks (Kelompok Pro-U Media)
Tahun Terbit : 2011
Tebal Buku : 615 halaman
Harga : 76.000
First of all, gara-gara baca novel ini, saya jadi tahu perbedaan antara autobiografi dan memoir (atau sebagian orang menyebutnya memoar). Am i late?. Orang bijak bilang, late better than never ya 😁.
💙Biografi adalah kisah
tentang sesorang yang ditulis oleh orang lain (biasanya meng-hire penulis profesional)
Contoh: Biografi Krisdayanti: My Life, My Secret yang
ditulis oleh Alberthiene Endah.
💙Autobiografi adalah kisah
hidup seseorang yang ditulis oleh si tokohnya sendiri (tapi sejujurnya saya belum pernah riset nih, kalo pembuatan autobiografi apakah tetap melibatkan penulis profesional atau cukup editor saja)
Contoh: Autobiografi Alex Ferguson
Keduanya sama-sama menceritakan kisah hidup seseorang dari
lahir sampai saat tulisan tersebut dibuat. Yang bikin beda adalah sudut pandang
orang yang menceritakan. Biografi memakai POV 3 (penulis yang 'bercerita'),
sedangkan autobiografi memakai POV 1 (si tokoh sendiri yang 'bercerita').
Lantas apa perbedaan autobiografi dengan memoar?.
Now, we talk about 'Memoirs of Stientje'. Ini salah satu
buku hadiah lomba resensi Maret lalu. Baru dibaca sekarang?. Iyaa🙈. Sebanyak itu penghuni rak TBR di rumah. Makin
numpuk, soalnya sering tergoda beli novel lain. Beneran harus dihabisin dulu
tuh TBR. One by one ya. Kita mulai dengan Stientje ini.
Jujur, tidak banyak novel genre ini yang saya punya. Bukan
termasuk wish list kalo di saya 🙈.
Tapi ternyata, keluar dari zona nyaman perbukuan itu perlu ya *biar nutrisi otak makin variatif😁.
Memoirs of Stientje adalah prekuel dari novel berjudul Tembang Ilalang (penulisnya sama, terbit pertma kali tahun 2008)*Auto pengen langsung hunting😊. Dalam memoar ini, Stientje menceritakan perjalanannya kembali ke Hindia Belanda (selanjutnya saya sebut Hindia ya). Setelah meninggalkannya sepuluh tahun lalu. Bagi Stientje-yang lahir dan menghabiskan awal masa anak-anak selama enam tahun di Hindia,--Negeri Belanda lebih seperti tanah rantau. Sepuluh tahun setelah meninggalkan Hindia, ia memutuskan kembali ke tanah kelahirannya.
Awalnya hanya merencanakan sebuah nostalgia, bertemu pengasuh masa kecilnya dan tinggal beberapa waktu untuk sekaligus mengenyam pendidikan di Hindia. Namun ternyata keputusan kembali ke Hindia mengubah seluruh jalan hidup seorang Stientje.
Kisah dimulai sejak jangkar kapal terlepas dari dermaga di pelabuhan Genoa Italia. Pelayaran selama tiga puluh hari menyisakan banyak pertanyaan dan rasa penasaran seorang Stientje muda karena perubahan perilaku sepupunya--Roos Bernard s'Jacob-- yang menyertainya dalam pelayaran tersebut. Serta pertemuannya dengan seorang lelaki pribumi yang berhasil memetik dawai asmara di hati Noni Belanda ini. Di kelak kemudian hari, lelaki ini akan memegang peranan penting dalam kehidupan Stienje 😉.
Layaknya sebuah memoar, buku ini sarat dengan cerita
sejarah. Penulis sangat detail dan runut menceritakan sejarah Indonesia saat masih bernama Hindia Belanda.
"Ini Bandung. Orang Belanda memberinya nama Parijs Van
Java, karena kata sebagian orang kita, di sanalah nuansa kota Paris bisa
ditemui. Belakangan, orang juga menyebutnya sebagai *Staf Van Bloemen. Kenapa?
sebab di sana banyak gadis-gadis yang--kata para lelaki-- ayu. Kenapa para
lelaki kita tidak memberi nama itu pada salah satu tempat di Belanda saja?
Padahal, negeri kita pun banyak menawarkan perempuan-perempuan cantik berikut
tempat yang tak kalah mempesonanya dibanding Bandung (halaman 41)
*Staf Van Bloemen artinya Kota Kembang. Ah, baru tau saya
kalau julukan 'kota kembang' pun berasal dari Belanda.
Selain sejarah, kisah romansa Stienje dengan lelaki yang ia
temui di dek kapal saat pelayaran dari Napoli ke Batavia juga menjadi kisah
menarik yang dikemas dalam alur yang rapi dan membuat ketagihan untuk membuka
halaman demi halaman.
"Begitulah malam itu, kami benar-benar telah menyatu
dalam harapan indah akan hidup kami di hati-hari mendatang. Cinta yang murni
memang mampu membuat sepasang insan seiring sejalan. Tapi di dalam cinta itu
pula, akan berlaku ujian-ujian yang bakal memberi jawab adakah benar itu cinta
yang dialasi ketulusan sukmawi atau sekedar nafsu yang digayuti kepentingan
ragawi semata. Bila masa itu telah tiba dalam hidup kami, moga kami kuat
menghadapinya dan sanggup membuktikan kalau cinta kami benar-benar tulus karena
Allah semata (halaman 489).
Yes, akhirnya Stienje menikah. Dengan siapakah?. Ini salah
satu yang bikin ketagihan membuka tiap halaman di novel ini 😉.
Rentang waktu dalam kisah ini sangat panjang. Konflik pun sangat komplek. Ada banyak nama tokoh di dalamnya. Tetapi dengan alur yang rapi, tidak membuat bingung untuk tetap paham dengan alur ceritanya. Sejak halaman awal--saya merasa-- penulis mencoba 'memperkenalkan' tiga tokoh sentral di novel ini yaitu, Stientje, Roos dan lelaki pribumi di kapal. Interaksi ketiga tokoh inilah yang menjadi pembuka konflik di awal kisah. Misalnya adalah kecurigaan Stientje terhadap perubahan perilaku Roos sudah tampak di bagian awal novel. Emosi ini terus dibangun hingga sampai pada klimaks saat Stientje merasa have to do something, sebab nuraninya mulai terusik.
Perubahan perilaku Roos mulai membuat Stientje terusik sejak masih berada di atas kapal yang membawa mereka dari Napoli ke Batavia. Roos yang Stientje kenal adalah Roos yang baik budi pekertinya. Kecurigaan Stientje terjawab saat ia menyaksikan sendiri bagaimana Roos memperlakukan orang-orang pribumi Hindia yang menjadi pembantu di rumahnya (nggak tega ih, mau nulis j**gos).
"Merah matanya menatap saya. Beruntung ia segera sadar atau terpaksa sadar, saya tidak tahu. Tanpa berkata apapun, ia berangsur pergi dari hadapan saya dengan raut muka yang memendam kegeraman. Entahlah, apakah kegeraman itujuga ditujukan buat saya? SAya tidak memedulukannya. Konsentrasi saya terkalut oleh keadaan pembantu Roos yang tampak kesakitan namun berusaha keras menyembunyikan rasa sakit tersebut (halaman 106).
Inilah titik yang membuat Stientje yakin bahwa ada keganjilan di kehidupan Roos. Yang tentu saja hal ini tidak bisa membuatnya hanya tinggal diam. Ia merasa harus melakukan sesuatu. Keyakinan itu dikuatkan oleh kalimat sang papa: "kau hanya harus merawat tanaman yang mengakar di hatimu itu sampai kelak tiba musimnya berbuah. (halaman 159).
Pertemuannya (kembali) dengan lelaki pribumi Hindia saat perjalanan ke Batavia--yang kemudian diketahui bernama Wardoyo-- itu kembali membuat denting dawai asmara terdengar di hati Stientje. Namun hanya sesaat saja Stientje dan Wardoyo mengecap manisnya madu cinta, sebab petaka menghadang keduanya, tepat ketika kuncup itu tengah mekar di hati Stientje.
Benar adanya, bahwa hidayah Allah akan selalu ada bagi orang-orang yang Dia kehendaki 😊.
"Tiba-tiba saya melihat kebenaran yang terang benderang
justru dalam keadaan yang serba susah begini. Sungguh ajaib nian. Lalu kembali
saya tenggelam dalam tangis, bukan sebab saya merasa sendiri, sebaliknya saya
merasa ada yang begitu dekat, karib yang melihat dan mendengar keluh saya"
(halaman 421).
Saya merindiiiing baca halaman ini 😊
Membaca novel ini sesungguhnya membuat saya malu hati.
Keteguhan hati Stientje setelah menjadi seorang mualaf benar-benar menunjukkan
ketauhidan yang mumpuni. Auto lihat ke dalam diri. Sudahkan menjadi seorang
muslimah yang baik? Sudahkah menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat
Sang Maha atas segala sesuatu?😔.
Mengagumkan. Itulah satu kata yang saya pilih untuk
merangkum 615 halaman yang telah saya baca. Pertama, kisah Stientje itu sendiri
yang sungguh sangat mengagumkan. Terlepas dari pilu, intrik dan semua yang
membuat sesak hati, namun ada banyak hikmah dan teladan yang bisa kita ambil
dari sosok ini.
Kedua, mengagumkan dari sisi 'penyajiannya'. Diksinya keren
banget. Saya seperti membaca buku harian Stientje. Ketulusan hati, kasih sayang
dan tekad baja seorang Stientje van Hoorn diceritakan dengan kalimat-kalimat
yang lugas dan indah. Emosinya sampai ke hati 😍.
Covernya cantiiiik. Misterius gitu. Dan sejauh saya baca, saya nggak menemukan typo. Two thumbs up.
*Renjana artinya rasa hati yang kuat. Inilah kata yang tepat--menurut saya--untuk judul resensi novel ini. Sebuah rasa cinta dan kasih sayang yang kuat dari Stientje van Hoorn untuk Hindia, untuk orang-orang yang ia sayangi di tanah yang untuknya rasa cinta lebih besar ia rasakan daripada rasa cinta kepada bangsanya sendiri.



Komentar
Posting Komentar