Resensi: Memoirs of Stientje

RENJANA



Judul Buku      : Memoirs of Stientje

Penulis             : Md. Aminudin

Penerbit           : MyBooks (Kelompok Pro-U Media)

Tahun Terbit    : 2011

Tebal Buku      : 615 halaman

Harga              : 76.000


First of all, gara-gara baca novel ini, saya jadi tahu perbedaan antara autobiografi dan memoir (atau sebagian orang menyebutnya memoar). Am i late?. Orang bijak bilang, late better than never ya 😁.

 Jadi Sobat Budiman,--untuk yang belum tau ya--ini nih bedanya, autobiografi, biografi dan memoar.

 

💙Biografi adalah kisah tentang sesorang yang ditulis oleh orang lain (biasanya meng-hire penulis profesional)

Contoh: Biografi Krisdayanti: My Life, My Secret yang ditulis oleh Alberthiene Endah.

💙Autobiografi adalah kisah hidup seseorang yang ditulis oleh si tokohnya sendiri (tapi sejujurnya saya belum pernah riset nih, kalo pembuatan autobiografi apakah tetap melibatkan penulis profesional atau cukup editor saja) 

Contoh: Autobiografi Alex Ferguson




 

Keduanya sama-sama menceritakan kisah hidup seseorang dari lahir sampai saat tulisan tersebut dibuat. Yang bikin beda adalah sudut pandang orang yang menceritakan. Biografi memakai POV 3 (penulis yang 'bercerita'), sedangkan autobiografi memakai POV 1 (si tokoh sendiri yang 'bercerita').

 

Lantas apa perbedaan autobiografi dengan memoar?.

 💙 Baik biografi maupun autobiografi, umumnya mencakup periode waktu yang lama. Sedangkan memoar, hanya mencakup periode tertentu saja. Sedikit kesamaan antara memoar dan autobiografi ada pada POV yang digunakan, yaitu sama-sama menggunakan POV 1. Yang cukup terkenal nih, memoar Michelle Obama dalam buku berjudul 'Becoming Michelle Obama' yang berkisah pengalamannya selama mendampingi Barrack Obama menjadi Presiden Amerika ke-44.

 

Now, we talk about 'Memoirs of Stientje'. Ini salah satu buku hadiah lomba resensi Maret lalu. Baru dibaca sekarang?. Iyaa🙈. Sebanyak itu penghuni rak TBR di rumah. Makin numpuk, soalnya sering tergoda beli novel lain. Beneran harus dihabisin dulu tuh TBR. One by one ya. Kita mulai dengan Stientje ini.

 

Jujur, tidak banyak novel genre ini yang saya punya. Bukan termasuk wish list kalo di saya 🙈. Tapi ternyata, keluar dari zona nyaman perbukuan itu perlu ya *biar nutrisi otak makin variatif😁.

 

Memoirs of Stientje adalah prekuel dari novel berjudul Tembang Ilalang (penulisnya sama, terbit pertma kali tahun 2008)*Auto pengen langsung hunting😊. Dalam memoar ini, Stientje menceritakan perjalanannya kembali ke Hindia Belanda (selanjutnya saya sebut Hindia ya). Setelah meninggalkannya sepuluh tahun lalu. Bagi Stientje-yang lahir dan menghabiskan awal masa anak-anak selama enam tahun di Hindia,--Negeri Belanda lebih seperti tanah rantau. Sepuluh tahun setelah meninggalkan Hindia, ia memutuskan kembali ke tanah kelahirannya. 

Awalnya hanya merencanakan sebuah nostalgia, bertemu pengasuh masa kecilnya dan tinggal beberapa waktu untuk sekaligus mengenyam pendidikan di Hindia. Namun ternyata keputusan kembali ke Hindia mengubah seluruh jalan hidup seorang Stientje.

Kisah dimulai sejak jangkar kapal terlepas dari dermaga di pelabuhan Genoa Italia. Pelayaran selama tiga puluh hari menyisakan banyak pertanyaan dan rasa penasaran seorang Stientje muda karena perubahan perilaku sepupunya--Roos Bernard s'Jacob-- yang menyertainya dalam pelayaran tersebut. Serta pertemuannya dengan seorang lelaki pribumi yang berhasil memetik dawai asmara di hati Noni Belanda ini. Di kelak kemudian hari, lelaki ini akan memegang peranan penting dalam kehidupan Stienje 😉.





 

Layaknya sebuah memoar, buku ini sarat dengan cerita sejarah. Penulis sangat detail dan runut  menceritakan sejarah Indonesia saat masih bernama Hindia Belanda.

 

"Ini Bandung. Orang Belanda memberinya nama Parijs Van Java, karena kata sebagian orang kita, di sanalah nuansa kota Paris bisa ditemui. Belakangan, orang juga menyebutnya sebagai *Staf Van Bloemen. Kenapa? sebab di sana banyak gadis-gadis yang--kata para lelaki-- ayu. Kenapa para lelaki kita tidak memberi nama itu pada salah satu tempat di Belanda saja? Padahal, negeri kita pun banyak menawarkan perempuan-perempuan cantik berikut tempat yang tak kalah mempesonanya dibanding Bandung (halaman 41)

 

*Staf Van Bloemen artinya Kota Kembang. Ah, baru tau saya kalau julukan 'kota kembang' pun berasal dari Belanda.

 

Selain sejarah, kisah romansa Stienje dengan lelaki yang ia temui di dek kapal saat pelayaran dari Napoli ke Batavia juga menjadi kisah menarik yang dikemas dalam alur yang rapi dan membuat ketagihan untuk membuka halaman demi halaman.

 

"Begitulah malam itu, kami benar-benar telah menyatu dalam harapan indah akan hidup kami di hati-hari mendatang. Cinta yang murni memang mampu membuat sepasang insan seiring sejalan. Tapi di dalam cinta itu pula, akan berlaku ujian-ujian yang bakal memberi jawab adakah benar itu cinta yang dialasi ketulusan sukmawi atau sekedar nafsu yang digayuti kepentingan ragawi semata. Bila masa itu telah tiba dalam hidup kami, moga kami kuat menghadapinya dan sanggup membuktikan kalau cinta kami benar-benar tulus karena Allah semata (halaman 489).

 

Yes, akhirnya Stienje menikah. Dengan siapakah?. Ini salah satu yang bikin ketagihan membuka tiap halaman di novel ini 😉. 

  

Rentang waktu dalam kisah ini sangat panjang. Konflik pun sangat komplek. Ada banyak nama tokoh di dalamnya. Tetapi dengan alur yang rapi, tidak membuat bingung untuk tetap paham dengan alur ceritanya. Sejak halaman awal--saya merasa-- penulis mencoba 'memperkenalkan' tiga tokoh sentral di novel ini yaitu, Stientje, Roos dan lelaki pribumi di kapal. Interaksi ketiga tokoh inilah yang menjadi pembuka konflik di awal kisah. Misalnya adalah kecurigaan Stientje terhadap perubahan perilaku Roos sudah tampak di bagian awal novel. Emosi ini terus dibangun hingga sampai pada klimaks saat Stientje merasa have to do something, sebab nuraninya mulai terusik.

Perubahan perilaku Roos mulai membuat Stientje terusik sejak masih berada di atas kapal yang membawa mereka dari Napoli ke Batavia. Roos yang Stientje kenal adalah Roos yang baik budi pekertinya. Kecurigaan Stientje terjawab saat ia menyaksikan sendiri bagaimana Roos memperlakukan orang-orang pribumi Hindia yang menjadi pembantu di rumahnya (nggak tega ih, mau nulis j**gos).

"Merah matanya menatap saya. Beruntung ia segera sadar atau terpaksa sadar, saya tidak tahu. Tanpa berkata apapun, ia berangsur pergi dari hadapan saya dengan raut muka yang memendam kegeraman. Entahlah, apakah kegeraman itujuga ditujukan buat saya? SAya tidak memedulukannya. Konsentrasi saya terkalut oleh keadaan pembantu Roos yang tampak kesakitan namun berusaha keras menyembunyikan rasa sakit tersebut (halaman 106).

Inilah titik yang membuat Stientje yakin bahwa ada keganjilan di kehidupan Roos. Yang tentu saja hal ini tidak bisa membuatnya hanya tinggal diam. Ia merasa harus melakukan sesuatu. Keyakinan itu dikuatkan oleh kalimat sang papa: "kau hanya harus merawat tanaman yang mengakar di hatimu itu sampai kelak tiba musimnya berbuah. (halaman 159).

Pertemuannya (kembali) dengan lelaki pribumi Hindia saat perjalanan ke Batavia--yang kemudian diketahui bernama Wardoyo-- itu kembali membuat denting dawai asmara terdengar di hati Stientje. Namun hanya sesaat saja Stientje dan Wardoyo mengecap manisnya madu cinta, sebab petaka menghadang keduanya, tepat ketika kuncup itu tengah mekar di hati Stientje. 

Lalu ada nama Baba Ah Kiong, Habib Husein dan Ah Soen Zi yang memberi andil besar dalam perjalanan hidup Stientje selanjutnya, khususnya perjalanan spiritual. Inilah bagian yang cukup menarik, yaitu sisi spiritual seorang Stientje yang kemudian menjadi seorang mualaf. Penggambaran perjalanan spiritual Stientje dikisahkan dengan sangat indah, diksi yang menarik dan alur yang mampu mengaduk emosi pembaca. *sukaaa banget baca bagian-bagian yang Stientje mulai tertarik dengan Islam.

Benar adanya, bahwa hidayah Allah akan selalu ada bagi orang-orang yang Dia kehendaki 😊.

 

"Tiba-tiba saya melihat kebenaran yang terang benderang justru dalam keadaan yang serba susah begini. Sungguh ajaib nian. Lalu kembali saya tenggelam dalam tangis, bukan sebab saya merasa sendiri, sebaliknya saya merasa ada yang begitu dekat, karib yang melihat dan mendengar keluh saya" (halaman 421).

 

Saya merindiiiing baca halaman ini 😊

 

Membaca novel ini sesungguhnya membuat saya malu hati. Keteguhan hati Stientje setelah menjadi seorang mualaf benar-benar menunjukkan ketauhidan yang mumpuni. Auto lihat ke dalam diri. Sudahkan menjadi seorang muslimah yang baik? Sudahkah menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat Sang Maha atas segala sesuatu?😔.

 

Mengagumkan. Itulah satu kata yang saya pilih untuk merangkum 615 halaman yang telah saya baca. Pertama, kisah Stientje itu sendiri yang sungguh sangat mengagumkan. Terlepas dari pilu, intrik dan semua yang membuat sesak hati, namun ada banyak hikmah dan teladan yang bisa kita ambil dari sosok ini.

 

Kedua, mengagumkan dari sisi 'penyajiannya'. Diksinya keren banget. Saya seperti membaca buku harian Stientje. Ketulusan hati, kasih sayang dan tekad baja seorang Stientje van Hoorn diceritakan dengan kalimat-kalimat yang lugas dan indah. Emosinya sampai ke hati 😍.


Covernya cantiiiik. Misterius gitu. Dan sejauh saya baca, saya nggak menemukan typo. Two thumbs up.

 

Let me ask, pernah nggak, baca buku dan kita ikut merinding disco pas baca bagian-bagian yang menegangkan? atau mata ikut meremang oleh sebab baca bagian yang sedih? Atau dada ikut bergemuruh saking gemesnya dengan part tertentu?. Baca buku ini. Semua ada di sana 😉. Sebuah kisah yang mengetuk nurani. Sebuah kisah yang membuat kita bisa turut merasakan kebulatan tekad, keagungan cinta dan ketulusan hati seorang Stientje terhadap Hindia, terhadap orang-orang yang tertindas dan juga terhadap agama Islam yang baru ia peluk. 




*Renjana artinya rasa hati yang kuat. Inilah kata yang tepat--menurut saya--untuk judul resensi novel ini. Sebuah rasa cinta dan kasih sayang yang kuat dari Stientje van Hoorn untuk Hindia, untuk orang-orang yang ia sayangi di tanah yang untuknya rasa cinta lebih besar ia rasakan daripada rasa cinta kepada bangsanya sendiri. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Movie Time: Ruang Nostalgia (Review Film Rangga dan Cinta)

Resensi: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya

Resensi Animal Farm: RESILIENSI