Resensi SELENA dan NEBULA
NAPAK TILAS SANG PENGINTAI
Judul Buku: Selena
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: April 2020 (cetakan kedua)
Tebal Buku: 365 Halaman
Harga Buku: 85.000
Akhirnya..Miss Keriting a.k.a Miss Selena memiliki 'panggungnya' sendiri. Setelah menunggu sekian lama, segala sesuatu tentang Selena akan terkuak di dua judul novel yang release dalam satu waktu. 'Selena' dan 'Nebula' menjadi buku ke-8 dan ke-9 dari kisah petualangan di dunia paralel setelah Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Komet, Komet Minor dan Ceros Batozar.
Salah satu penulis Indonesia paling produktif yang saya tahu, ya Bang Tere ini. Sebagai pembaca setia karya-karyanya--boleh ya, saya menasbihkan diri sebagai pembaca setia karya Tere Liye ππ-- tidak kurang dari 30 judul buku karya Tere Liye sudah berderet rapi di rak buku di perpustakaan kecil rumah kami.
Semua favorit tentu saja. Tapi dari semua yang favorit, ada yang istimewa bukan?. Selain Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah dan Sunset Bersama Rosie, kisah-kisah petualangan dunia paralel (mulai Bumi hingga Nebula) menjadi yang istimewa juga buat saya. Ada dua alasan mengapa sebuah novel menjadi istimewa. Pertama, jalan cerita yang menarik dan yang kedua adalah POV yang digunakan.
Saya adalah anggota klub pecinta novel #POV1gariskeras π₯°. Bukan berarti tidak menyukai Rindu, Hafalan Sholat Delisa atau Bidadari-Bidadari Surga yang menggunakan POV 3. Hanya saja, saya merasa lebih 'terkoneksi' saat membaca sebuah novel yang menjadikan 'aku' sebagai tokoh utamanya. Segala dinamika rasa yang dibangun penulis dari awal hingga akhir kisah dapat terasa betul emosinya melalui cerita dengan POV 1. Selena dan Nebula, adalah dua diantaranya π€©π€©.
First, we talk about 'Selena'
Buku ke delapan dari petualangan dunia paralel ini seperti sebuah kepingan puzzle yang mulai tersusun, membentuk satu objek yang lengkap. Sebuah kisah yang akan membuka satu demi satu rahasia hidup seorang Selena.
Eits..tunggu dulu, meskipun ini buku ke delapan, nggak perlu khawatir buat Sobat Budiman yang belum membaca kisah-kisah sebelumnya. Nggak akan bingung kok. Novel ini tetap sebuah cerita yang utuh, walaupun berkisah tentang Selena, guru matematika Raib, Ali dan Seli yang selalu muncul di tujuh novel sebelumnyaπ.
Awal kisah, Selena remaja--si anak yang tidak pernah menangis, bahkan ketika ia baru lahir--sempurna menjadi yatim piatu di usia limabelas tahun. Saat itulah, petualangan Selena dimulai. Petualangan sebagai pengintai terbaik yang merupakan bakatnya sejak kecil.
Berbekal sepucuk surat wasiat dari sang Ibu, Selena remaja meninggalkan Distrik Sabit Enam, tempat ia tinggal selama ini, menuju Kota Tishri.
"Pamanmu, Raf, yang tinggal di Kota Tishri, akan merawatmu. Pergilah. Temui dia" (halaman 7).
Tidak mudah bagi Selena untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Perbedaan Distrik Sabit Enam dengan Kota Tishri sangat mencolok. Dari kumuh, padat, tertinggal, sangat kontras dengan lingkungan modern dan serba canggih. Dari kapsul terbang kusam yang seperti terkentut-kentut saat terbang beralih ke kereta terbang yang melaju kencang, melesat dengan cepat.
Membaca 'Selena', membuat saya sesekali berhenti sejenak, memberi jeda agar otak 'mewujudkan' imajinasi berdasarkan rangkaian aksara yang ditangkap oleh indera penglihatan.
"Selama perjalanan berpindah-pindah kereta, aku segera memahami bagaimana bentuk Kota Tishri. Kota ini terbagi menjadi dua bagian--satu berada di perut bumi, di kedalaman belasan kilometer; satu lagi berada di permukaan, dengan rumah-rumah seperti balon di atas tiang tinggi. Kota yang berada di perut bumi untuk kelas menengah ke bawah, para pekerja kasar, penduduk biasa-biasa saja. Sementara bangunan-bangunan bertiang di atas hamparan hutan dihuni oleh penduduk kelas atas. Orang-orang penting, orang-orang kaya. Elite kota (halaman 15).
Dalam bayangan saya, rumah balon ini semacam balon-balon udara di Cappadocia. Sedangkan membaca pembagian strata sosial di Kota Tishri, membawa ingatan ke Film The Divergentπ.
Deskripsi Kota Tishri digambarkan dengan sangat detail oleh penulis. Benar-benar terbayang seperti apa adaptasi yang dilalui Selena. Meski sesekali harus mengambil jeda sejenak---terutama saat membaca bagian yang penuh dengan hi-tech---agar otak menafsirkan dengan tepat apa yang tertulis di novel, tapi semua itu sukses membuat Saya memiliki gambaran sempurna tentang Kota Tishri π.
Ditulis dengan alur campuran--flashback kisah Selena menggunakan alur mundur digabungkan dengan part kehadiran Seli, Ali dan Raib sebagai 'penanda' waktu sekarang, yang artinya menggunakan alur maju- tidak membuat pembaca kesulitan memahami benang merah cerita ini. Hal tersebut justru mempermudah Sobat Budiman yang belum pernah membaca seri dunia paralel sebelumnya, agar dapat mengetahui jalan cerita novel ini.
Menapaki jalan hidup Selena, semakin menarik ketika menceritakan tentang pertama kali si gadis keriting itu mengenyam pendidikan. Saat berusia delapan belas tahun, Selena berhasil masuk Akademi Bayangan Tingkat Tinggi (ABTT) sebuah sekolah terbaik di Klan Bulan, tempat para petarung terbaik seluruh Klan Bulan belajar. Kelompok elite diantara para elite πππ.
Itulah babak baru kehidupan Selena. Bertemu Tazk dan Mata, dua orang yang kemudian menjadi sahabatnya dan di ABTT inilah, Selena belajar banyak ilmu baru di kampus terbaik dengan mata kuliah dan pengajar yang super keren.
Selain jalan cerita, saya selalu dibuat penasaran dengan pemilihan nama di novel-novel Tere Liye (khususnya serial Bumi ini). Adaaa saja nama tokoh atau tempat yang sebelumnya nggak kebayang akan menjadi nama 'sesuatu', jika bukan karena membaca novel ini. Pokoknya unik dan menggelitik. *jadi ingat nama pulau di Buku Komet: Pulau Hari Senin, Pulau Hari Selasa, sampai Pulau Hari Minggu π.
Dan untuk 'Selena', yang unik dan menggelitik itu ada pada nama-nama mata kuliah di ABTT, lengkap dengan dosen pengajarnya. Keren, Bang Tereπ.
Bergabungnya Selena di ABTT inilah merupakan awal dari sebuah kisah panjang yang penuh liku. Sebuah kisah panjang yang membawanya harus berurusan dengan seseorang bernama Tamus, sebuah kisah panjang yang mengharuskannya bekerja keras menerjemahkan isi dari perkamen tua, yang di masa depan--akibat dari perbuatannya itu--justru meninggalkan nestapa di hati Selena oleh sebab sebuah kehilangan yang menyakitkan. *nah, akan terjawab nih awal pertemuan Tamus dan Selena.
Sejak awal,--Buku Bumi-- kehadiran Miss Selena sebagai guru matematika di sekolah Raib, Ali, dan Seli memang selalu membuat penasaran. Dia itu semacam guardian angel-nya Raib, Seli dan Ali. Selalu ada dan selalu melindungi ketika mereka bertiga terkena masalah. Lalu mengapa Raib memiliki kedekatan emosional dengan Miss Selena?. Semua akan terkuak secara perlahan, seiring dengan mulai terbukanya tabir rahasia tentang orang tua kandung Raib π.
'Berpetualang' melalui buku ini seperti mengikuti acara Uji Nyali. Adrenalin ikut terpacu ketika Selena berusaha membuka gembok saat sedang belajar tentang 'Kunci dan Cara Membukanya', diiringi suara nyaring Bibi Gill. Atau ketika tiba-tiba Tamus berteriak di depan Selena, "RABARASATABARAAA". Rasanya beneran ikutan kaget dan panik π.
"Lihatlah di sekelilingku. Entah datangnya darimana, ribuan jarum es siap menghujam tubuhku. Aku hendak melepaskan cengkraman Tamus, tapi tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan. Berusaha menggelepar, menggeliat, tapi aku terlambat. Ribuan jarum es telah meluncur deras, menghantam setiap simpul nadiku, menembus pakaianku, menusuk kulitku, terus menghujam deras. Aku berteriak keras. Itu sakit sekali. Kepalaku terasa mau pecah. Seluruh peredaran darahku bagai berhenti (halaman 80).
Berasa linuuu baca part di atas π .
Banyak keseruan yang terasa nyata adanya saat membaca buku ini. Menerima surat yang dikirim melalui kurir drone dan membuka amplop digital dengan sidik jari, lalu sensasi ketika melakukan teleportasi pada mata kuliah 'Malam dan Misterinya', dan keseruan lain yang diceritakan dengan sangat detail, sehingga imajinasi kita seolah terlibat langsung di dalamnya.
Ah, jangan lupakan juga, saat Selena terjangkit 'virus merah jambu'. Betapa bahagianya ia, saat bisa menghabiskan waktu dengan Tazk, meski dengan modus belajar.
"Punggung lelaki sebaya denganku itu menghilang diantara meja-meja baca, menuju pintu gedung perpustakaan. Aku menghela napas pelan. Tersenyum lebar. Yes! Kali ini aku punya kesempatan besar mendapatkan nilai A untuk mata kuliah menyebalkan ini. Dan...Yes! Aku baru saja menghabiskan waktu bersama Tazk dengan amat-sangat-super-total-menyenangkan" (halaman 298).
Percayalah Sobat, sekeren itu, novel 'Selena' ini, hingga benar-benar membuat saya bisa merasakan semua yang Selena rasakan π€©.
Sekali lagi, mengikuti kisah Selena, membawa saya 'berpetualang' ke dalam sebuah dunia baru, dunia paralel yang hi-tech dan serba digital. Dan untuk kesekian kalinya, Tere Liye benar-benar juara untuk urusan membuat pembaca berhasil 'masuk' ke dalam buku, bergabung dengan semua yang ada di dalamnyaπ.
Selain berpetualang di dunia paralel, membaca novel ini--seperti pada novel-novel Tere Liye sebelumnya,-- juga seperti menguji kemampuan pembaca mendeteksi 'pesan tersembunyi' yang dikemas rapi dalam bentuk science fiction ini. Let's say, 'Selena' lebih dari sekedar sebuah novel. Bukan pada sisi science (kalau ini jelas, lha namanya juga science fiction), tetapi lebih pada, bisakah saya bilang 'nilai moral' yang ada di novel ini? π.
"Komite Klan Bulan sepakat menghapus dekrit tentang keistimewaan pemilik kekuatan. Dengan demikian, seluruh penduduk Klan Bulan--baik penduduk biasa maupun penduduk dengan kekuatan--akan berdiri sama tinggi, duduk sama rendah di depan hukum. Tidak ada pengecualian (halaman 168).
I love this sentence. Sebuah kalimat yang keren, bukan?. Harapan akan adanya persamaan di depan hukum. Di 'klan' manapun aturan itu diterapkan, tidak boleh ada pengecualian ππ.
Bagian lain yang menjadi favorit saya juga adalah adanya hari khusus di ABTT, yaitu hari 'Aku Cinta Perpustakaan'.
"Kampus ini suka sekali memberikan tugas menulis. Sedikit-sedikit mahasiswa disuruh menulis makalah, menulis esai. Jangan-jangan kampus ini lebih terobsesi melahirkan seorang penulis dibanding petarung Klan Bulan (halaman 142).
Semoga saya tidak salah menginterpretasikan yaπ, bahwa (mungkin) ini (juga) menjadi salah satu keprihatinan penulis terkait rendahnya minat baca di Indonesia. Hopely, Indonesia tercinta memiliki terobosan baru untuk memantik minat baca warganya. Dan bukankah tulisan yang berkualitas lahir dari minat membaca yang tinggi?. *kalau beneran ada hari 'Aku Cinta Perpustakaan' di Indonesia, Saya rasa tidak hanya minat baca yang tinggi, tetapi akan lahir penulis-penulis yang mumpuni ππ.
Hey, jangan-jangan Tere Liye alumnus ABTT kah? πππ.
Seperti sebuah teka-teki, ending buku ini kembali membawa kita ke sebuah misteri baru. Sebuah epilog yang membawa kembali pembaca ke masa sekarang, bertemu dengan Ali, Seli dan Raib. Melalui teleconference, tampak di layar, dengan tubuh terikat jaring berwarna hijau, Selena berulang kali meminta maaf kepada Raib. Entah untuk sebab apa. Ternyata puzzle belum tersusun sempurna. Semua justru mengarah kepada misteri baru. Sebuah misteri yang membawa mereka kembali berpetualang ke sebuah klan yang lain, KLAN NEBULA.
*Jadi sobat, apakah resensi Novel NEBULA--seperti halnya Novel Selena-- hanya berisi puja-puji bertabur confetti?. Nanti, di akhir resensi NEBULA akan terjawab semuanya ππ.
*Check this out, resensi NEBULA π
πππππ
MENJAGA ASA DI TENGAH NESTAPA
Judul Buku: Nebula
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2020
Tebal Buku: 365 Halaman
Harga Buku: 85.000
"Mata. Aku menyukainya sejak tiba di Akademi Bayangan, saat kami bertemu pertama kali di meja daftar ulang. Aku menatapnya dari jarak dekat. Aku tidak tahu bahwa dia berasal dari Distrik Sungai-Sungai Jauh. Belum. Tapi aku telah menyukainya." (Tazk kepada Selena, halaman 301)
Patah hati yang sempurna dialami Selena. Sakit tapi tak berdarah. Perih. Melebihi perih dari luka yang nyata-nyata mengeluarkan darah. Benar adanya Sobat Budiman, perkara patah hati jangan dianggap sepele. Persoalan ini menjadi sangat serius, sangat berbahaya dampaknya. Logika terkadang tak berjalan saat patah hati menyerang, sebab segala yang rasional berubah menjadi tak masuk akal. Dan Selena mengalaminya. Mengambil keputusan gegabah disaat hati sedang patah.
Now, let's talk about 'Nebula'.
Jika di resensi 'Selena' saya sebutkan bahwa tidak masalah membaca 'Selena' tanpa membaca seri sebelumnya, maka tidak demikian dengan novel ini.
Yup. Sebaiknya baca Selena terlebih dahulu, sebelum baca Nebula. Dua novel ini, satu rangkaian cerita. Dan tetap, khas Tere Liye; diksi yang sederhana--tapi tetep keren--, setting yang semakin oke dan jangan lupa nama-nama tokoh, juga tempat yang selalu membuat penasaran.
Tidak seperti karya Tere Liye yang lain--biasanya menggunakan bahasa yang serius--, bahasa yang digunakan dalam novel Selena-Nebula (dan Serial Bumi yang lain) terkesan lebih sederhana dan mudah dipahamiπ.
Bagian awal 'Nebula' kembali flashback ke Kota Tishri, di mana Selena melanjutkan kehidupannya bersama keluarga Paman Raf dan aktivitas pendidikannya di ABTT.
Cerita semakin seru saat Selena bersama Mata dan Tazk berencana menemukan Cawan Keabadian di sebuah Klan yang bernama Nebula. Petualangan di dunia paralel siap menanti mereka.
"Cawan Keabadian adalah salah satu pusaka dunia paralel. Penjaga keseimbangan. Sumber kekuatan tiada tara. Obat tiada tanding. Gembok paling kokoh. Tersimpan di sebuah klan jauh. Tempat dengan gunung-gunung tinggi yang terus bergerak mengikuti polanya. Klan dengan kabut, awan, dan debu yang menyelimuti terus menerus, persis seperti namanya. Klan itu disebut Nebula (halaman 178).
Ternyata tidak semudah itu untuk menemukan Cawan Keabadian. Mereka harus menemukan terlebih dahulu di mana portal untuk menuju Klan Nebula berada. Banyak cara mereka lakukan agar mendapatkan clue tentang keberadaan portal tersebut.
Buku ini beneran nagih. Bikin penasaran maksimal. Dari halaman pertama, saya nggak berhenti sampai mereka bertiga berhasil menemukan portal dan tiba di Klan Nebula. Ketika sudah berhasil sampai Nebula, baru saya rehat membaca. Lanjut baca besoknya lagi ππ. Paling bisa nih, Tere Liye memantik rasa penasaran pembaca π.
"Tubuh kami tersentak ke depan, seperti terseret puting beliung besar. Sekitar kami hijau menyilaukan. Kakiku seperti berpijak di atas karpet kenyal. Lima detik berlalu, tubuh kami sekali lagi tersentak ke depan, mendarat di sebuah tempat. Kami telah tiba di Klan Nebula" (Sebuah halaman, di hampir seperempat terakhir bagian buku. Biar penasaran ya, Sobat Budiman π).
Bisul pecaaahhh ππ. Se-lega itu, ketika saya sampai di halaman tersebut, saat akhirnya Selena, Mata, dan Tazk berhasil masuk ke Klan Nebula.
Sebagai anak IPS, saya sebenarnya tidak menemukan definisi 'indah' dari pelajaran Kimiaπ . Atau serunya belajar Fisika dan Biologi. Tapi membaca Nebula, seperti menemukan 'keindahan' dan 'keseruan' itu. Ada saat di mana saya merasa menjadi anak IPA, ketika 'ikut' belajar Kimia dan Keindahannya atau Hewan, Tumbuhan dan Bukan Keduanya.
"Sehelai kapas jatuh lebih lambat karena ada udara yang mempelambat gerakannya. Sementara bola atau batu bata bisa dengan mudah melewati udara. Di ruang hampa udara, ketika variabel ini dihilangkan, semua benda jatuh dengan kecepatan yang sama, seperti yang baru saja kalian saksikan. Hanya gravitasi yang bekerja, dan dua benda tersebut mendapatkan gravitasi yang sama. Itu bukan keajaiban, itu hanya fakta ilmiah yang seringkali dilupakan banyak orang (halaman 136).
Belajar Fisika dong ππ.
Apakah petualangan Selena, Mata, Dan Tazk berakhir setelah mereka menemukan Cawan Keabadian?. Tentu tidak. Konflik kembali terjadi--puncak konflik nih--, kali ini lebih complicated, karena melibatkan urusan hati. Benar kata orang, urusan hati bisa jadi persoalan paling rumit.
Selena mengambil keputusan paling gegabah dari semua keputusan yang pernah ia ambil. Sebuah keputusan yang kelak di kemudian hari menjadi penyesalan terbesar seumur hidupnya.
Sebuah keputusan yang membuatnya tak berhenti menggumamkan kata maaf kepada Raib. Sebuah keputusan yang membuatnya kehilangan untuk selamanya sahabat terbaik yang ia miliki. Dan sebuah keputusan yang membuatnya harus menempatkan Raib, Seli dan Ali dalam persoalan besar yang sangat membahayakan jiwa raga mereka.
Seperti dalam buku 'Selena', di akhir 'Nebula', flashback juga berakhir. Kembali ke masa sekarang, di mana Miss Selena mencoba terus berkomunikasi dengan Ali, Seli dan Raib melalui teleconference. Selena masih dalam kondisi mengenaskan. Terikat jaring berwarna hijau, lemas tak berdaya. Terkulai, terkapar di atas batu. Ia sungguh-sungguh dalam keadaan yang sangat membahayakan jiwa raganya. Bahkan kini, melibatkan ketiga muridnya.
"Siapa pun kalian di sana, sampaikan ke seluruh dunia paralel. Mulai hari ini, tidak ada lagi para pemilik kekuatan. Aku akan mendatangi kalian satu per satu, mengambil semua teknik bertarung kalian. Mulai hari ini, era pemilik teknik bertarung tamat. Kalian akan dimusnahkan dari dunia paralel. Kalian akan kembali menjadi manusia biasa tanpa kekuatan. Namaku Lumpu, aku akan mendatangi kalian. Misi suci ini telah dimulai". Sambungan itu terputus. Gelap (halaman 368).
Dan bisul kembali muncul ππ. Setelah lega, ketika akhirnya mereka tiba di Klan Nebula--dan menemukan Cawan Keabadian--akhir kisah kembali membuat penasaran. Ada Lumpu yang siap mengambil kekuatan Raib, Ali, dan Seli. Dan jangan lupa, Si Lumpu ini masih menyandera Miss Selena. *Nah loh, siapa nih Lumpu.
Penasaran kelanjutannya? Bagaimana Ali, Seli dan Raib menghadapi ancaman Lumpu?. Bagaimana juga cara mereka menyelamatkan Miss Selena?. Bisakah asa itu tetap terjaga di tengah nestapa yang melanda?. Tunggu di next book: LUMPU. *semoga nggak pake lama ya Bang Tere π
Meski kembali dibuat penasaran, tetapi ada beberapa hal yang terungkap di novel Nebula ini. Tentang orang tua Raib, tentang Cawan Keabadian, dan alasan mengapa Miss Selena akhirnya bisa berada di Klan Bumi, mengajar Raib, Seli, dan Ali.
Satu hal yang juga istimewa di kedua novel ini--sejak awal Selena hingga akhir Nebula--adalah kisah persahabatan yang indah dari Selena, Mata dan Tazk. Ketiganya memiliki sifat yang berbeda dan penulis sangat piawai menonjolkan kekuatan karakter masing-masing. Selena yang keras kepala dengan rasa ingin tahu yang tinggi; Mata yang cute, lovable, humble; dan Tazk, si mantan anggota boyband yang menyimpan sejuta pesona *nggak tahu kenapa, setiap kali membaca bagian Tazk, yang terbayang adalah aktor Ari Wibowo ketika masih bergabung di group Cool Colors. Ampuunnn ketauan banget angkatan berapa ππ. Ah ya, bicara tentang boyband, jadi teringat judul scriptie Selena: 'Memahami Riuh-Rendah Fenomena Idola. Studi Kasus atas Fans Liga Bola Terbang dan Fans Boyband'. Judul yang sangat 'menggemaskan' π.
Kisah persahabatan yang sedikit ditambah bumbu romansa semakin membuat kedua novel ini terasa 'lezat' untuk dinikmati. Kadar romansanya pas, tidak dominan, sebab tetap saja novel ini bukan bergenre romance. Jadi yang pas (bahkan mungkin cenderung sedikit) tadi, justru menjadi penyempurna 'cita rasa' dalam kisah science fiction ini.
Seperti yang saya tulis di akhir resensi 'Selena', tentang puja puji penuh confetti yang ada di sepanjang resensi kedua novel ini, apakah memang demikian adanya?. Tidak adakah kekurangan dari Novel Selena dan Nebula?.
Jika yang dimaksud kekurangan itu tentang redaksional--typo, spasi, etc-- atau plot hole (manalah mungkin sekaliber Tere Liye menulis novel yang mengandung plot hole π ), maka saya tidak menemukannya. Juara deh buat editornya ππ. But, sorry to say, ada beberapa part yang sangat kental dengan atmosfer di Novel Harry Potter. As a potterhead, membaca part Tamus seperti melihat perpaduan karakter antara kesetiaan Bellatrix Lestrange dan kepatuhan Lucius Malfoy (kepada Voldemort)--dan di otak saya, si Tuan Tanpa Mahkota adalah Voldemort--. Sedangkan sosok Selena merupakan kolaborasi karakter Severus Snape---bagian jatuh cinta diam-diam--- dan Sirius Black. Mata dan Tazk? James and Lily Potter, of course π. Lalu Si Ngeleputur yang mengingatkan saya pada Whomping Willow a.k.a Dedalu Perkasa di kisah Harry Potter. Dan satu lagi, pertarungan di Klan Nebula membawa ingatan pada pertarungan epic antara Harry Potter versus Voldemort di sebuah pemakaman di Little Hangleton (Harry Potter and The Goblet of Fire).
Topik lama sebenarnya, perihal 'rasa' Harry Potter di Serial Bumi ini (tak terkecuali Selena dan Nebula). Tapi buat saya, ibarat masakan, Serial Bumi--Selena dan Nebula di dalamnya--, jelas memiliki 'cita rasa' Indonesia. 'Bumbu rempahnya' lebih banyak, khas Indonesia. Harry Potter versi kearifan lokal π€©. Dua diantara 'rasa Indonesia' pada kisah ini adalah pemilihan nama 'Ngeleputur' (saya bukan orang Sunda, tapi ini terdengar kesunda-sundaan ya) dan pemilihan nama salah satu tempat yaitu 'Kota Lubuk Enam Bulan' (yang ini sounds like kesumatera-sumateraan).
Dibanding 'rasa Harry Potter', sudah pasti novel Selena dan Nebula ini memiliki sebuah 'rasa' yang tidak ada di novel Harry Potter itu sendiri, yaitu 'rasa Tere Liye' π. 'Rasa' tersebut berbentuk konsisten.
Penulis sangat konsisten dengan nama-nama tokoh maupun tempat yang out of the box---selalu membuat penasaran dan nama tersebut jelas 'Indonesia banget'---, dan konsisten juga dengan part-part science yang dikemas apik dan detail sesuai alur cerita. Sebab se-fiktif apapun kisah ini, tetap saja pengetahuan itu nyata bukan?. Inilah bedanya. Latar utama Harry Potter adalah kisah dunia sihir, sedangkan Selena-Nebula (dan kisah dunia paralel lainnya) merupakan kisah yang mengusung genre science fiction.
'Rasa Tere Liye' lain juga tampak pada konsistennya penulis dalam mengemas 'nilai moral' dengan bahasa yang sederhana, tidak terkesan menggurui, tapi pas kena di hati ππ. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa koleksi buku karya Tere Liye menempati hampir satu slot sendiri di perpustakaan kecil rumah kami. Selalu ada hal baru yang diperoleh setiap kali selesai membaca buku karya Tere Liye. Bukankah itu tujuan kita membaca?. Bukan sekedar hiburan semata, tetapi juga untuk mengetahui sesuatu yang baru. Atau mungkin juga kita diingatkan terhadap sesuatu yang sempat kita lupakan tentang segala hal baik dalam kehidupan.
Jadi, meski ada beberapa part yang (sempat) membawa imajinasi ke atmosfer Harry Potter--terutama untuk para potterhead pasti paham nih--, namun dengan 'rasa Tere Liye' yang sangat dominan di sepanjang novel, dapat membawa kembali imajinasi pembaca ke alur cerita Selena dan Nebula π.
Over all, dua novel ini sangat renyah untuk dikudap, sangat nikmat untuk disantap. Bolehkah saya berharap bahwa kelak, serial Bumi ini difilmkan?. It will be amazing movie πππ. Semoga...
minus 'Komet Minor', sedang dipinjam seorang kawanπ
Banjarnegara, Juni 2020
πππππ







Komentar
Posting Komentar