Pernah Khilaf

Mau ngaku, saya pernah beli buku bajakan. Itu duluuu πŸ™ˆπŸ™ˆ. It's  #throwbackstory, tapi masih relate banget dengan kondisi sekarang. Tentang pembajakan buku. Marak banget ya. Miris baca beritanya. Pembajakan buku atau repro--berasal dari kata reproduksi--yang artinya tiruan, menjadi persoalan klasik yang sulit sekali diputus rantai pergerakannya. Ini bagaikan bisnis yang menggurita, yang tentakelnya kemana-mana. Bahkan di era sekarang, nggak hanya buku secara fisik yang dibajak, sebab pembajakan versi digital pun juga kian marak.

Kapan itu pernah baca curhatan seorang penulis yang karyanya baruuu banget kelar di wattpad, eh besoknya dijual versi digitalnya. Gemes banget ngikutin beritanya. Kasian si penulisnya. Masih on proses sama sebuah penerbit--rencananya beberapa waktu setelahnya mau dihapus sebagian part-nya untuk kepentingan penerbitan--eh, belum juga deal dengan penerbit, udah ada yang jual versi digitalnya. Nyesek nggak tuh 😣.


Back to my story, jadi ceritanya suatu ketika saya ke toko buku bekas di daerah Citra Raya. Maksud hati mau nyari komik Sailormoon dan Conan (suka banget sama dua komik ini dari dulu). Kan banyak tuh, komik ori, tapi bekas. Biasanya si pedagang di toko buku bekas ini dapat dari (salah satunya) tempat persewaan buku bacaan yang udah gulung tikar. Mereka jual buku-buku itu ke pedagang buku bekas. *Info ini saya dapat dari salah satu penjual buku bekas di sana.

Pas sampai TKP, yang saya cari nggak ada. Kebanyakan tuh, komik 'serial cantik' *bacaan  zaman kuliah kalo lagi bolos πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ. Daripada langsung pulang, kesempatan dong, lihat-lihat buku lain, kali aja ada yang nyangkut di hati. Tapi tetep, sambil kekep dompet  (takut kalap😁). Diantara buku-buku bekas itu, ada rak khusus, isinya buku2 "baru", diwrapping rapiii. Mulai dari buku-buku Pramoedya Ananta Toer, Asma Nadia,  Andrea Hirata,  Ilana Tan sampai novel dari penulis-penulis wattpad. Saya pun memutuskan membeli In a Blue Moon-Ilana Tan.  Pada saat itu,  saya belum pernah membaca satupun karyanya. Tapi udah lama tahu tentang Mbak Ilana ini--sang penulis novel best seller--. Apalagi yang tetralogi empat musim, udah naik cetak berapa kali tuh, dua diantaranya bahkan sudah difilmkan (Sunshine Becomes You dan Winter In Tokyo). Saya membayar 20.000 untuk novel In a Blue Moon, bawa pulang dan siap dieksekusi *nggak habis pikir, bisa-bisanya saya melakukan itu. Padahal ya tahu kalo novel tersebut kw, tapi masih aja dibeli.

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk 'mengunyah' buku itu. Ceritanya menarik, konfliknya ringan. Jenis novel yang kalo saya bilang, alur ceritanya mudah ditebak. Dari benci jadi cinta. Membacanya, seperti ikut merasakan  proses jatuh  cinta tokoh utamanya. So simple, tapi cara Ilana Tan mengemas cerita, nggak bikin bosen dan nggak bikin kening berkerut. Setting New York nya dapet banget.  Serasa main salju di Park Avenue. Singkat cerita, saya terkesima dengan Mbak Ilana Tan ini, yang novelnya larisnya kebangetan.

Ilana Tan ini salah satu penulis yang cukup tertutup untuk masalah publikasi yang bersifat personal. Ia lebih ingin dikenal karena karya-karyanya. That's why, cukup sulit mendapatkan informasi tentang seorang Ilana Tan, kecuali terkait karyanya saja. So humble ya.

Pernah nggak sih membayangkan proses panjang yang terjadi sebelum akhirnya sebuah buku bisa sampai di tangan kita. Mulai dari riset, ngetik, bolak-balik ke editor, mungkin juga sampai harus begadang menyelesaikan naskah. Dan, satu hal yang harus dipahami bahwa lahirnya sebuah buku itu kan hasil kerja banyak pihak, tidak hanya penulis, ada editor, ada orang yang kerja di percetakan, bagian layout, bagian cover, bagian penjilidan. Lantas apa yang terjadi kalo kita beli buku kw?. Yang terjadi adalah perilaku kita tersebut bisa jadi alasan matinya dunia literasi di Indonesia. Orang-orang yang bekerja di industri ini akan mengalami masalah dengan yang namanya penghasilan. Duh, matiin rezeki orang nih namanya. 

Belum lagi kalau bicara tentang riset untuk membuat sebuah buku. Nggak gampang dan nggak murah kan?.  Lalu saya, dengan nggak tahu malunya beli In a Blue Moon repro kw super, hanya dengan Rp. 20.000 πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ. Sungguh tak berperikepenulisan.



   *which one is repro kw super?

Rasa bersalah itu--beli buku repro kw super--, kebawa sampai mimpi. Mimpi dikejar-kejar Ilana TanπŸ˜„πŸ˜„. Logikanya begini, kalo kita beli buku bajakan, si penulis nggak dapet royalti dong.  Beda kalo kita beli buku bekas. Ori tapi ya. Paling tidak, si penulis sudah dapat royalti dari pembeli pertama dan kita bisa memutus rantai pembajakan dengan tidak memberi keuntungan untuk si  pembajak πŸ™. CMIIW. *ini belum kalo ngomongin pembajakan secara digital. Semakin compliceted.
 

Udah deh, kapok beli buku bajakan. Murah, tapi nggak berkah. Salah satu rumus menjalani hidup itu kan tentang 'menanam' dan 'memanen'. Tanam kebaikan, panen kebaikan jua. Matiin rezeki orang, bisa saja Allah juga akan menutup jalan rezeki kita. Ngeri nggak tuh, dimatiin rezekinya oleh Allah Sang Maha Kaya. Nauzubillah mindzalik  😩.

Kala itu, pertama dan terakhir saya beli buku repro kw super a.k.a bajakan. Saking merasa bersalahnya, saya langsung ambil hp, order In a Blue Moon ke toko buku online langganan. Nggak hanya itu, saya juga beli yang seri tetralogi empat musim dan Sunshine Becomes You (secara bertahap sih, nggak langsung begitu 😊). Beneran se-nagih itu memang novel-novel Ilana Tan πŸ‘πŸ˜Š.




Stop beli buku bajakan yaa 😊😊


Banjarnegara, 3 Juni 2020


πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Movie Time: Ruang Nostalgia (Review Film Rangga dan Cinta)

Resensi Animal Farm: RESILIENSI

Resensi: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya