Resensi Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

                             



💙 MENAPAK JEJAK JUANG SANG PANGERAN 💙
                                                             

Judul Buku : Sang Pangeran dan Janissary Terakhir
Penulis : Salim A. Fillah
Penerbit : Pro-U Media
Tahun Terbit : 2019
Tebal Buku : 632 halaman
Harga : 120.000 (harga PO)

Saat sekolah dulu, setiap kali pelajaran sejarah, tubuh ini secara otomatis akan memproduksi hormon melatonin secara berlebih. Alhasil, bukan ilmu yang didapat, melainkan mata yang selalu ingin merapat 😅. Tidak hanya saat diterangkan, saat membaca buku sejarahpun, biasanya mata sulit diajak kompromi. Kesimpulannya adalah saya termasuk orang yang “tidak tahan” berlama-lama membaca buku dengan tema sejarah.

Namun semua itu terpatahkan setelah saya membaca “Sang Pangeran dan Janissary Terakhir” (SPJT). Meskipun bertema fiksi sejarah, SPJT sukses membuat mata saya tetap melebar hingga lembar terakhir. Kurang lebih satu minggu waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan membaca 632 halaman. *kalau marathon bisa lebih cepat, tapi kerjaan lain nggak kepegang 😊. Buku ini mengubah pandangan saya tentang buku dengan tema sejarah yang mengundang kantuk menjadi buku yang enak untuk dinikmati. Apalagi dalam novel ini banyak tokoh yang dihadirkan dengan ragam karakter yang mampu membuat senyum bahkan tawa dari dialog mereka yang ringan dan renyah. Serenyah keripik singkong 😋.

Hal pertama yang saya lakukan sebelum membaca buku ini adalah mencari arti kata 'Janissary'. Iya, saya benar-benar baru pernah mendengar kata tersebut. Setelah tahu artinya, barulah saya memulai petualangan bersama Sang Pangeran dan janissary dari prolog, titik nol hingga titik tigapuluh dan berakhir di epilog. Ibarat sebuah alunan lagu, novel ini memiliki dinamika yang sangat indah. Kadang tenang, sesekali menegangkan, sering juga menghadirkan senyuman ☺️.

Kisah, kasih dan selisih dalam Perang Diponegoro ini diawali dengan kondisi di Puri Tegal Rejo, sebuah tempat di wilayah barat laut Yogyakarta pada tahun 1825. Seperti karya-karya penulis sebelumnya, novel inipun menyajikan diksi yang mampu “membawa” pembaca merasakan atmosfer di masa itu. “Mentari sore kian turun ke arah peraduan ketika dengan terpaksa Sang Pangeran menjebol tembok baluwarti barat daya puri yang tingginya sepuluh hasta dan tebalnya lima hasta. Api telah menjalar dari joglo ke bagian pringgitan dan gandok (prolog, halaman 20). Membaca bagian ini turut membawa imajinasi saya ke tahun 1825, saat Sang Pangeran berusaha melarikan diri dari pasukan penyerbu yang datang dari Loji Residen dan Fort Rustenburg dengan kuda hitamnya yang kekar, Kyai Gentayu.

Sebuah prolog yang epik mengawali kisah selanjutnya yang cukup pelik. Kenapa pelik? Karena sebenarnya, sangat bisa bagi Sang Pangeran untuk hidup nyaman di Keraton Yogyakarta. Namun ia lebih memilih berada di Puri Tegal Rejo dan harus mengalami perjuangan panjang nan penuh kesulitan demi mewujudkan apa yang menjadi pilihan nuraninya, yaitu berjuang untuk rakyat.
Sang Pangeran bahkan rela harus berpisah dengan keluarganya karena pilihan hidup yang beliau ambil. “Jurang yang menganga diantara dua orang yang sama-sama dicintainya itu telah begitu curam dan dalam. Meski dahulu mereka adalah dua sahabat yang saling setia. Patahnya takkan terpulihkan. Lukanya takkan tersembuhkan. Laranya takkan terobati” (halaman 177). Seperti itu kira-kira perasaan Sang Pangeran saat harus berpisah dengan orang-orang terkasih demi rakyat yang dicintainya.

Dituturkan dengan alur maju mundur, tidak membuat kita “gagal paham” terhadap keutuhan ceritanya. Karena pemenggalan kisah di setiap bab sangat rapi. Kita akan diajak untuk “melihat” bagaimana perang terjadi, bagaimana Sang Pangeran menyikapi kekalahan dan bagaimana cara beliau menenangkan pasukannya. Lantas kita juga akan "menyaksikan" upaya pembunuhan terhadap Pangerang Diponegoro di Goa Selarong, sebuah konspirasi, fitnah, juga kisah cinta yang menambah warna cerita novel ini. Keluhuran budi Sang Pangeran yang oleh orang Makassar disebut sebagai Karaeng Jawa atau Raja Jawa sangat menonjol digambarkan penulis dalam SPJT. Dengan kebijaksanaan dan ilmu agama yang mumpuni, Sang Pangeran tidak hanya berada di garda depan pasukan pejuang, namun juga selalu mengingatkan orang-orang terdekatnya tentang hakikat perjuangan dan ketaqwaan sepenuhnya kepada Sang Maha. “Kekalahan itu ketika kita ditinggalkan Gusti Allah meskipun kita menang perang ataupun banyak kawan serta pengikut. Sebaliknya, yang disebut kemenangan adalah tetap bersama Gusti Allah meskipun kita tinggal sendirian atau bahkan binasa dalam perjuangan” (halaman 443).

Kita akan dibuat “mendidih” hingga ke ubun-ubun, ikut merasakan atmosfer mencekam ketika membaca bagian peperangan di cerita ini. Salah satunya pertempuran jarak dekat antara Barjumu’ah dan Hulptroepen. Dan turut merasakan perih juga disaat Nurkandam dijambak rambutnya serta dipiting lengannya tepat di bekas luka pada peperangan jarak dekat tersebut (halaman 211)
Ada beberapa bagian yang membuat tensi ketegangan menurun di tengah cerita peperangan Sang Pangeran. Tentang kisah cinta Basah Katib dan Nuryasmin atau obrolan segar a la Legowo dan Prasojo. Pipi saya ikut merona dibuatnya, saat Basah Nurkandam meledek sang adik karena memanggil Basah Katib dengan sebutan “Kanda” (halaman 390). Dan saya dibuat tertawa saat tiba di bagian dialog duo prajurit Prasojo dan Legowo yang sok kemenggres (halaman 202). Ditambah lagi pada beberapa dialog duo prajurit tersebut menggunakan kata “Ahai, siyaap dan iyes” yang bisa membuat senyum sejenak sebelum tensi kembali naik saat membaca bagian peperangan 😌. Dan satu lagi, ini favorit juga, adalah saat otak saya bekerja keras membayangkan visual kalimat ini: “Satu kumisnya baplang, satunya lagi kumisnya dicukur segi empat bagaikan ladang gandum yang hangus di bawah hidungnya yang membukit” (halaman 27). Tolong bantu saya memvisualkan kalimat itu 😁.
Bagian lain yang juga menarik adalah saat dialog antara Syaikhul Islam Halil Effendi, Nurkandam dan Sang Patriark (halaman 225). Membaca bagian ini semakin membuat saya yakin bahwa toleransi ada sejak zaman dahulu dan sampai sekarangpun seharusnya tanpa diri merasa paling pintar dan paling benar, kita manusia Indonesia bisa hidup berdampingan dengan damai sebagaimana dicontohkan para pendahulu kita. Bersama karena berbeda, bersatu karena tak sama😇.





Menikmati buku ini hingga lembar terakhir membuat imajinasi saya membayangkan beratnya perjuangan Sang Pangeran dalam peperangan yang konon menewaskan 200.000 jiwa penduduk Jawa. Bahwa hidup nyaman yang bisa menjadi pilihan Sang Pangeran ditolaknya demi sebuah perjuangan untuk kesejahteraan rakyat.
Sejenak, saya sempat berpikir bahwa Basah Katib dan Basah Nurkandam ini nyata. Penulis benar-benar piawai membuat kolaborasi yang apik antara cerita fiksi sang janissary dengan fakta peperangan Sang Pangeran. Kedua hal tersebut membentuk komponen cerita yang utuh dan tidak terkesan hanya tempelan belaka. Kekuatan lain dari buku ini terletak pada diksi yang digunakan. Ustadz Salim. A. Fillah tidak perlu diragukan lagi kemampuannya dalam memilah kata sehingga menjadi sebuah narasi yang indah dan mengaduk-aduk emosi pembaca. Marah, kecewa, sedih ada semua di novel ini. Bahkan saya sampai mrebes mili baca epilognya 😢😢. Over all, novel ini recommended sekali untuk yang ingin mengetahui sejarah panjang Perang Diponegoro dan keluhuran budi Sang Pangeran.

Skala 1-9, saya beri nilai delapan. Kenapa nggak sembilan?. Karena sembilan itu sempurna. Dan kesempurnaan itu hanya milik Allah 😇. Kenapa nggak 8,5?. Karena buku saya, sejak pertama kali datang (saya ikut PO), lalu saya buka plastik wrappingnya, dari halaman 561-568 ada sobek di ujung kanan bawah. Dan sobekannya nggak ada. Tumpil kalau orang Jawa bilang 😁. Kondisi plastik wrappingnya masih rapi, nggak terbuka. But, It’s ok. Nggak sampai kena tulisan. Masih aman. Untuk typo, sejauh saya baca, ada beberapa yang seharusnya Basah Katib, namun tertulis Basah Nurkandam (halaman 399-400). Dan beberapa kalimat yang tidak menggunakan spasi. Tapi semua "tertutup" dengan kisah epik Sang Pangeran dan para Janissary yang sarat makna dan hikmah ini.

Barakallah Ustadz Salim A. Fillah Dua-full semoga Allah SWT memberikan kemudahan untuk membuat buku kedua, ketiga dan keempat dari Tetralogi Sang Pangeran ini.

Banjarnegara, 29 Januari 2020

💚💚💚




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Movie Time: Ruang Nostalgia (Review Film Rangga dan Cinta)

Resensi Animal Farm: RESILIENSI

Resensi: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya