And The Winner Goes To


 



Allah Maha Baik, Alhamdulillah, terimakasih untuk moment ini 😍. Setelah berkali-kali ikut lomba resensi di tingkat lokal--kadang menang, kadang nggak--datang juga kesempatan ini, being a winner di kompetisi resensi yang, lingkupnya lebih besar. Bolehkah disebut lomba tingkat nasional? 😁.

Sejak awal ikut kompetisi ini--membuat  resensi novel Sang Pangeran dan Janissary Terakhir--bohong sih kalo saya nggak pengen menang. Namanya ikut kompetisi, pasti goalnya menang dong. Dari goal itulah, saya berusaha mengeluarkan kemampuan terbaik, my best effort deh, untuk membuat resensi terbaik pula.


Ada sedikit cerita, hingga akhirnya saya bisa ketemu langsung dengan Ustadz Salim.A. Fillah sebagai penulis buku 'Sang Pangeran dan Janissary Terakhir'.


Tiga hari (atau empat hari ya, lupa tepatnya😊) setelah pengumuman pemenang dishare di instagram, di tengah euforia kemenangan dan bayang-bayang bakal ke Jakarta, ketemu langsung sama penulisnya (senorak itu saya πŸ™ˆπŸ™ˆ), tiba-tiba saya ditelepon pihak panitia, yang menyebutkan bahwa kemenangan kami bertiga (saya dan dua pemenang yang lain) dibatalkan. Auto syok.

Saya udah sebar confetti di facebook, bikin perayaan virtual disana. Duh, sedih, plus malu juga kan?. Terus, apa alasannya sampai dibatalkan??. Tenang, tenang...bakal saya ceritain semuanya 😊.

IMHO, untuk membuat sebuah resensi yang baik, syarat utamanya adalah membaca dengan utuh buku yang akan diresensi tanpa melewatkan satu halaman pun. Nggak hanya membaca sebenarnya, tapi juga paham secara keseluruhan isinya. Sehingga dengan bahasa kita sendiri, bisa menceritakan kembali isi buku itu. Mau panjang atau pendek, terserah. Yang penting adalah resensi tersebut merepresentasikan seluruh isi buku.

Tapi, karena ini sebuah kompetisi, harus ada tata tertib pastinya. Nah, disinilah saya nggak teliti. Ketika baca persyaratan lomba, yang pertama saya cari adalah deadline pengumpulan naskah resensi. Selanjutnya, jumlah kata. Begitu lihat angka '3000' langsung saya asumsikan sebagai jumlah 'kata'. Ternyata oh ternyata, dibelakang angka 3000 bukan tertera 'kata', tapi 'karakter' πŸ™ˆ.

Resensi saya berjumlah 1186 kata, dengan jumlah karakter with spasi, hampir 8000 atau kalo mau nggak dihitung spasinya, sekitar 7500 karakter.


Sedikit pembelaan nih, dari beberapa kompetisi resensi yang pernah saya ikuti, biasanya menggunakan standar 'kata' bukan 'karakter'. Ya tapi balik lagi, beda arena, beda aturan. Beda kompetisi, beda tata tertib juga kan?πŸ˜„. Kali ini, saya menerapkan aturan A, di arena B. Jelas tidak bisa dibenarkan 😊.


Apa sih, beda kata dengan karakter?. Let's check this example:


Adiba makan bubur ayam. = 4 kata

Adiba makan bubur ayam. = 23 karakter

Menurut KBBI, kata adalah satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri. Sedangkan karakter adalah (ini bahasa gampangnya ya), gabungan dari huruf, tanda baca, termasuk di dalamnya adalah spasi. Karakter itu sendiri, ada yang karakter with spasi, artinya spasi dihitung, ada juga yang nonspasi, berarti spasi nggak dihitung. Biasanya sih lebih sering yang dimaksud karakter ya yang with spasi. Jadi semuanya dihitung.

Jauh bukan, dari 3000 ke 8000? πŸ˜….

Saya salah, nggak teliti baca tata tertib lomba. Tapi pihak panitia juga meminta maaf dan menyadari bahwa mereka juga salah. Nggak teliti juga. Proses penjurian yang sedemikian panjang, melewati beberapa tahap dan melibatkan banyak dewan juri, hingga akhirnya diumumkan pemenang 1, 2 dan 3, eh tiga hari sesudahnya, dibatalkan.

Nggak usah ditanya perasaan saya waktu itu. Sedih plus kecewa tingkat internasional. Ya tapi apa boleh buat, aturan lomba tetaplah aturan. Lalu setelah itu, nama kami bertiga sebagai pemenang dihapus dari instagram panitia dan mereka--panitia--akan segera mengumumkan tiga pemenang baru, sebab dua pemenang yang lain juga membuat resensi lebih dari 3000 karakter πŸ˜….


Saya pun dengan sedih hati membuat 'press conference' di facebook tentang pembatalan ini *masih inget nih, waktu itu nulis sambil mrebes mili 😒. Alhamdulillah banyak support dari teman-teman. Dan saya juga menuliskan kalimat dari Mas Panitia yang disampaikan by phone (yang mana kalimat ini sungguh sangat menghibur hati saya 😍), bahwa secara konten, resensi kami bertiga itu layak menjadi pemenang. Tapii...sesuai tata tertib lomba, khususnya perihal 'karakter', kami nggak memenuhi standar penilaian itu.

Dapat banyak support bikin adem sih 😍. Jadi lebih ikhlas gitu. Yah, namanya belum rezeki, mau gimana lagi. Ya kan?. Terimakasih untuk semua yang sudah mensupport waktu itu yaπŸ˜„.

Saat hati sudah ikhlas karena dukungan dari whatsapp dan komen di facebook yang terus mengalir, saya ditelepon (lagi) oleh pihak panitia, yang mengabarkan bahwa...
---Pembatalan kemenangan dibatalkan---

Setahu saya, panitia bahkan belum mengumumkan pemenang baru. Tetapi postingan pemenang yang versi Saya dan dua teman yang lain memang sudah dihapus dari instagram panitia.

Saya nggak tahu pertimbangan pihak panitia 'mengembalikan' kemenangan ini kepada kami bertiga. Saya nggak bertanya lebih detail, karena saya tahu pasti hal ini nggak mudah juga untuk mereka: mengumumkan-membatalkan-membatalkan pembatalan 😊.




*Foto ini balik lagi di feed instagram panitia, setelah sebelumnya dihapus 😊.

Bersyukur pastinya. Bahagia juga. Artinya, Allah masih izinkan kemenangan ini menjadi rezeki saya πŸ˜‡. Saya lalu menghapus 'stop press' yang saya buat di facebook terkait pembatalan kemenangan, agar tidak membuat penyakit hati atau malah bisa menimbulkan 'speech war' 😊.

Terimakasih Allah Sang Maha Baik, karena memberi saya kesempatan untuk belajar tentang ikhlas dan tetap rendah hati atas capaian apapun. Dan karena peristiwa ini pula, saya jadi belajar lagi tentang konsep 'kata' dan karakter'. Dan yang pasti harus lebih teliti lagi ke depannya. Cermat membaca setiap rules. Apalagi kalau berkaitan dengan sebuah kompetisi 😊

Terimakasih tak terhingga juga untuk panitia dan Ustadz Salim A. Fillah untuk kesempatan ini. Well, meski menjadi yang terbaik adalah goal ketika menulis resensi ini sejak huruf pertama saya tulis di laptop, tetapi sejujurnya,saya bersyukur karena 'dipaksa' membaca buku ini hingga selesai. Ini kalo bukan karena untuk ikut kompetisi resensi, buku dengan tema sejarah nggak masuk dalam selera saya πŸ˜‚.

Ini buku beneran recommended. Keren. Harus baca ya gaes. Buat saya yang nggak suka tema sejarah, bisa se-enjoy itu menikmati lembar demi lembar Sang Pangeran dan Janissary Terakhir.

Finally, Alhamdulillah, akhirnya pada 1 Maret 2020 saya ke Jakarta, ketemu langsung dengan Ustadz Salim A. Fillah, ikut bedah bukunya dan bawa pulang hadiahnya 😍.



Nggak hanya saya yang bahagia sepenuh hati. Mas suami juga girang teramat sangat pas lihat (salah satu) hadiahnya berupa 29 judul buku yang super duper kereeenn dari penerbit Pro-U media.

Apa pasal?

Mas Suami said: "Nggak boleh beli buku sebelum semua ini selesai dibaca"




Artinya, budget pembelian buku dibekukan sampai waktu yang tidak ditentukan a.k.a sampai saya selesai membaca semua buku ini 😁😁.

Duh, apa kabar novel yang udah masuk wishlist untuk bulan depan?? πŸ˜‚πŸ˜‚

*ditulis kembali sebagai pengingat untuk diri ini yang masih sangat fakir ilmu, agar tetap rendah hati dan selalu mau belajar 😊.

Banjarnegara, 14 Mei 2020

πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Movie Time: Ruang Nostalgia (Review Film Rangga dan Cinta)

Resensi Animal Farm: RESILIENSI

Resensi: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya